Baru Direvitalisasi Rp50 Miliar, Pagar Jembatan Otista Mulai Retak
Jembatan Otista Bogor yang baru direvitalisasi pada 2023 mulai mengalami keretakan di bagian pagar. Warga khawatir soal keselamatan.

HALLONEWS.ID – Infrastruktur vital di pusat Kota Bogor, yakni Jembatan Otista, kini menjadi sorotan publik setelah ditemukan kerusakan pada bagian pagar pembatasnya.
Padahal, jembatan tersebut baru selesai direvitalisasi dan diresmikan pada akhir 2023 oleh Presiden Joko Widodo.
Kerusakan berupa retakan dan lubang kecil mulai terlihat sejak April 2026. Kondisi ini memicu kekhawatiran warga, mengingat usia hasil pembangunan yang masih relatif baru.
Sebagai jalur penghubung utama di jantung kota, Jembatan Otista memiliki peran strategis dalam mendukung arus lalu lintas.
Jembatan ini menghubungkan kawasan Jalan Pajajaran, Jalan Otista, hingga Jalan Juanda, termasuk area sekitar Tugu Kujang yang dikenal sebagai salah satu titik rawan kemacetan.
Sebelum dilakukan pelebaran, jembatan ini kerap menjadi titik penyempitan yang menyebabkan antrean kendaraan panjang.
Karena itu, pemerintah melakukan revitalisasi untuk meningkatkan kapasitas jalan dan memperlancar mobilitas.
Proyek perbaikan dimulai pada awal 2023 dan berlangsung sekitar 7,5 bulan dengan anggaran mencapai Rp50 miliar.
Setelah rampung, jembatan diresmikan pada Desember 2023, mencakup pelebaran badan jalan serta penataan fasilitas pendukung seperti trotoar dan pagar pembatas.
Jembatan ini juga memiliki nilai historis.
Dibangun pertama kali pada tahun 1920 pada masa kolonial, Jembatan Otista telah beberapa kali mengalami perubahan, termasuk pelebaran pada 1970.
Sejak 1990-an, jembatan ini menjadi salah satu urat nadi mobilitas dan aktivitas ekonomi warga Bogor.
Meski telah direvitalisasi, bentuk lengkung khas peninggalan sejarah tetap dipertahankan sebagai identitas kota.
Namun, munculnya keretakan pada pagar pembatas dalam waktu singkat menimbulkan pertanyaan terkait kualitas konstruksi dan material yang digunakan. Warga menilai fasilitas keselamatan seperti pagar seharusnya memiliki daya tahan lebih lama.
Tri (49), salah satu warga sekitar, mengaku baru mengetahui adanya kerusakan tersebut. Ia juga menyoroti desain pagar yang dinilai berbahaya.
“Saya nggak tahu kenapa pagar di kedua sisi jembatan didesain berlubang. Itu bisa membahayakan pejalan kaki,” ujarnya, Senin (4/5/2026).
Keluhan serupa disampaikan pedagang bunga yang berjualan di sekitar lokasi. Ia menilai lubang pada pagar cukup besar dan berpotensi membahayakan, terutama bagi anak-anak.
“Ukuran lubangnya bisa dilalui anak kecil. Ini jelas berisiko dan harus segera diperbaiki,” katanya.
Kondisi ini mendorong perlunya evaluasi menyeluruh terhadap hasil revitalisasi, baik dari sisi kualitas pekerjaan maupun pengawasan proyek.
Sebagai infrastruktur utama, Jembatan Otista tidak hanya dituntut mampu mengurai kemacetan, tetapi juga menjamin keselamatan penggunanya. Warga pun berharap pemerintah segera melakukan perbaikan agar jembatan tetap aman dan berfungsi optimal dalam jangka panjang. (opy)
