Bikin Haru! Calon Haji Termuda 16 Tahun Tunaikan Amanah Terakhir Sang Ayah

Kisah calon haji termuda usia 16 tahun yang menunaikan amanah terakhir sang ayah. Ceritanya bikin haru dan penuh makna.

Kamis, 23 April 2026 - 13:00 WIB
Bikin Haru! Calon Haji Termuda 16 Tahun Tunaikan Amanah Terakhir Sang Ayah
Ghathafan Raziki Yulamlam atau Avan (16), jemaah haji termuda Jawa Barat tahun 2026 di Asrama Haji Embarkasi Bekasi. Foto: Hallonews/Abdullah

HALLONEWS.ID – Langkah Ghathafan Raziki Yulamlam atau Afan menuju Tanah Suci bukanlah perjalanan yang dirancang sejak awal untuk dirinya. Di usia 16 tahun, sebagian remaja berkutat dengan tugas sekolah dan rutinitas harian, ia justru bersiap menunaikan ibadah haji.

Pagi itu di Asrama Haji Bekasi, suasana terasa berbeda. Di antara koper-koper yang tersusun rapi dan perlengkapan yang telah dipersiapkan, Afan menyimpan perasaan yang sulit dijelaskan. Ada haru, ada rindu, dan ada tanggung jawab besar yang kini ia pikul.

Perjalanan ini seharusnya milik sang ayah, Lutfi Yulamlam. Nama itu telah lebih dulu tercatat sebagai calon jemaah haji. Namun takdir berkata lain tiga tahun lalu, sang ayah berpulang sebelum sempat menjejakkan kaki di Tanah Suci.

“Awalnya harusnya ayah saya yang berangkat. Tapi beliau sudah meninggal,” kata Afan pelan kepada awak media di Asrama Haji Embarkasi Bekasi di Jalan Kemakmuran, Bekasi Selatan, Kota Bekasi, Rabu (22/4/2026).

Sejak saat itu, perjalanan haji berubah makna. Bukan lagi sekadar ibadah, tetapi juga amanah yang harus dituntaskan. Sang bunda, Ani Hidayati, tak tinggal diam. Ia mengurus segala proses pengalihan keberangkatan, mulai dari administrasi hingga ke Kementerian Agama.

Jalan yang ditempuh tidak selalu mulus, usia Afan yang masih belia sempat menjadi penghalang.
Namun harapan menemukan jalannya. Di sebuah pondok pesantren di Serang, kabar itu akhirnya datang. Afan dinyatakan bisa berangkat.

Alhasil, Visa pun terbit. Sebuah titik terang setelah penantian panjang. “Alhamdulillah, waktu itu saya dapat kabar bisa berangkat. Sekarang saya berangkat bersama bunda masuk kloter Jawa Barat,” ungkap remaja asal Depok ini.

Kini, Afan akan menunaikan ibadah haji bersama sang bunda. Perjalanan yang bukan hanya tentang rukun Islam kelima, tetapi juga tentang ikatan yang tak terputus antara ayah, ibu, dan anak.

Sejak jauh hari, ia sduah mempersiapkan diri. Manasik haji diikuti berulang kali di KBIH Alhamidiyah. Ia belajar setiap tahapan ibadah, mencoba memahami makna di balik setiap rukun yang akan dijalani.

Di sisi lain, fisiknya juga ditempa. Pola makan dijaga, olahraga rutin dilakukan, dan waktu istirahat tak diabaikan. Ia tahu, perjalanan ini membutuhkan kesiapan lahir dan batin.

Sebagai anak pertama dari dua bersaudara dan masih duduk di kelas 2 SMA, Afan menyadari tanggung jawab yang kini berada di pundaknya. Ia tak hanya berangkat sebagai jemaah, tetapi juga sebagai perpanjangan doa sang ayah.

Di tengah semua persiapan itu, harapannya sederhana. “Semoga diberi kelancaran, kesehatan, dan bisa menjalankan ibadah dengan baik. Semoga jadi haji yang mabrur,” ucapnya.

Bagi Afan, Tanah Suci bukan sekadar tujuan. Di sana, ia akan menuntaskan sebuah niat yang tertunda, menjaga amanah keluarga, dan mengirimkan doa untuk sosok ayah yang kini hanya bisa ia kenang. (dul)