Kisah Punk Bogor Ngaji, Aksi Sosial Bikin Haru
Komunitas punk Bogor bersama Cordofa Dompet Dhuafa rutin mengaji dan berbagi. Dari jalanan, mereka kini aktif menebar kebaikan sosial.

HALLONEWS.ID – Dakwah tak mengenal batas. Pesan inilah yang diwujudkan oleh Dompet Dhuafa melalui program Corps Dai Dompet Dhuafa (Cordofa) yang menyasar komunitas marginal, termasuk komunitas punk di Bogor, Jawa Barat.
Lewat program Dakwah Komunitas, para dai Cordofa secara konsisten mendampingi anak-anak punk yang selama ini kerap dipandang sebelah mata. Pendekatan yang dilakukan tidak hanya melalui ceramah, tetapi juga pembinaan spiritual dan kegiatan sosial yang berkelanjutan.
Salah satu anggota komunitas, Gugun, mengaku telah hampir lima tahun mengikuti kegiatan bersama Cordofa.
Ia bersama rekan-rekannya rutin belajar mengaji, salat, hingga tata cara berwudu bersama dai pendamping.
“Alhamdulillah, kami merasa dirangkul. Selama ini kami sering dipandang negatif, tapi di sini kami diberi ruang untuk belajar dan jadi lebih baik,” ujar Gugun dalam kegiatan Halalbihalal di Bogor.
Tak berhenti pada pembinaan spiritual, perubahan juga tampak dalam aksi nyata. Komunitas punk ini kini aktif melakukan kegiatan sosial, seperti menyalurkan bantuan kepada dhuafa dan janda di wilayah sekitar. Bahkan, menjelang Ramadan, mereka rutin berbagi takjil kepada pemulung, pengemis, dan anak jalanan.
Uniknya, dana kegiatan tersebut berasal dari hasil menyisihkan pendapatan mereka sehari-hari. Dengan cara menabung sedikit demi sedikit, mereka mampu mengumpulkan dana untuk membeli makanan berbuka yang kemudian dibagikan kepada sesama.
Momentum Halalbihalal yang digelar pada April 2026 lalu juga dimanfaatkan untuk berbagi makan siang kepada masyarakat jalanan, termasuk pengemudi ojek online dan pemulung.
Manajer Layanan Dakwah Dompet Dhuafa, Ahmad Pranggono, menegaskan bahwa setiap lapisan masyarakat memiliki hak yang sama untuk mendapatkan sentuhan dakwah. Menurutnya, pendekatan kepada komunitas punk harus dilakukan secara bertahap dan penuh empati.
“Ini bukan proses instan. Yang penting adalah membuka ruang kedekatan dan pendampingan. Harapannya, proses ini bisa membawa perubahan ke arah yang lebih baik,” ujarnya.
Program ini menunjukkan bahwa di balik stigma yang melekat, komunitas punk juga memiliki kepedulian sosial dan keinginan kuat untuk berubah. Pendampingan yang tepat terbukti mampu membuka jalan bagi lahirnya kebaikan dari kelompok yang selama ini terpinggirkan. (adv)
