BMKG Deteksi Ancaman Kemarau Kering 2026: Jawa hingga Papua Rawan Karhutla

BMKG memperingatkan musim kemarau 2026 berpotensi lebih kering akibat pengaruh El Nino dan IOD positif yang bisa memicu kekeringan hingga karhutla.

Kamis, 21 Mei 2026 - 10:00 WIB
BMKG Deteksi Ancaman Kemarau Kering 2026: Jawa hingga Papua Rawan Karhutla
Peta potensi kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. Foto: BMKG for Hallonews

HALLONEWS.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan musim kemarau 2026 berpotensi lebih kering di sejumlah wilayah Indonesia akibat dinamika fenomena iklim global.

Kondisi tersebut dipengaruhi peluang munculnya fenomena El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) fase positif yang dapat menurunkan curah hujan di berbagai daerah.

Sekretaris Utama BMKG Guswanto mengatakan kondisi tersebut dapat memicu kekeringan meteorologis, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hingga gangguan pada sektor pangan dan sumber daya air.

“Upaya antisipasi harus dilakukan sejak awal, termasuk memperkuat koordinasi lintas sektor dan memastikan informasi peringatan dini tersampaikan hingga tingkat daerah,” kata Guswanto dalam keterangannya, dikutip Kamis (21/5/2026).

BMKG kini mengklaim sistem prediksi cuaca dan iklim sudah jauh lebih detail. Bahkan, prakiraan cuaca disebut telah mampu menjangkau level desa dan kelurahan agar masyarakat bisa lebih cepat melakukan mitigasi.

Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani menjelaskan penguatan radar cuaca dan sistem nowcasting terus dilakukan untuk meningkatkan akurasi prediksi cuaca ekstrem.

“Sekarang prediksi sudah sampai level desa dan kelurahan. Kami berupaya agar forecasting semakin akurat,” katanya.

BMKG juga memetakan sejumlah wilayah yang berpotensi diguyur hujan lebat pada periode 18-24 Mei 2026. Daerah yang diminta waspada antara lain Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi, Maluku Utara, hingga Papua Pegunungan.

Sementara itu, Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengungkapkan titik panas atau hotspot memang masih relatif rendah.

Namun sejumlah wilayah di Sumatera, Jawa, NTT, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua mulai memasuki kondisi yang lebih mudah terbakar sehingga risiko karhutla tetap perlu diwaspadai.

BMKG juga menyiapkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mendukung penanganan bencana hidrometeorologi jika kondisi cuaca memburuk.

Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto menegaskan operasi tersebut harus berbasis data prakiraan cuaca agar lebih efektif.

Di sisi lain, Kementerian PPN/Bappenas meminta penguatan sistem mitigasi bencana dilakukan lebih terintegrasi. Pemerintah menilai prediksi cuaca yang akurat harus diimbangi kesiapan di lapangan agar dampak kekeringan dan karhutla bisa ditekan sejak dini. (dul)