DPR Sebut Ditjenpas Kehilangan Peta Jalan, Tak Heran Masalah Lapas Tak Pernah Usai

Anggota Komisi XIII DPR Mafirion mengkritik keras arah reformasi pemasyarakatan yang dinilai terlalu fokus pada pembangunan fisik.

Minggu, 5 Juli 2026 - 21:50 WIB
DPR Sebut Ditjenpas Kehilangan Peta Jalan, Tak Heran Masalah Lapas Tak Pernah Usai
Anggota Komisi XIII DPR Mafirion. Dok DPR for Hallonews

HALLONEWS.ID – Reformasi pemasyarakatan di Indonesia tidak akan berhasil apabila hanya berorientasi pada pembangunan fisik.

Anggota Komisi XIII DPR Mafirion menegaskan perubahan tentang Pemasyarakatan harus dimulai dari kualitas manusia yang menjalankan sistem tersebut.

Ia menilai selama bertahun-tahun perhatian pemerintah lebih banyak diarahkan pada pembangunan lapas, pengadaan peralatan, hingga penguatan pengamanan. Sementara aspek kemanusiaan justru belum menjadi prioritas utama.

“Pemasyarakatan adalah tentang manusia yang membina manusia. Karena itu, kualitas petugas menjadi faktor yang paling menentukan,” kata Mafirion, Minggu (5/7/2026).

Politikus PKB itu menjelaskan saat ini petugas pemasyarakatan menghadapi tekanan psikologis yang tidak ringan.

“Interaksi setiap hari dengan warga binaan yang mengalami stres bahkan gangguan mental juga dapat memengaruhi kondisi petugas apabila tidak didukung pembinaan yang baik,” ucapnya.

Mafirion mencontohkan pengalaman di sejumlah lembaga pemasyarakatan luar negeri yang menunjukkan bahwa keberhasilan sistem penjara lebih banyak ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia, sistem kerja yang jelas, dan kepemimpinan yang kompeten dibanding kemegahan bangunan.

Karena itu, ia meminta Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) menjadikan peningkatan kapasitas petugas sebagai prioritas utama reformasi pemasyarakatan.

“Selain memperkuat kompetensi SDM, Mafirion juga menilai sistem kerja harus diperbaiki agar lebih adaptif terhadap kebutuhan pembinaan narapidana,” tandasnya.

“Di saat yang sama, pemimpin lembaga pemasyarakatan harus benar-benar memahami filosofi pemasyarakatan sehingga mampu menciptakan lingkungan yang aman sekaligus manusiawi,” tambahnya.

Menurutnya, apabila pembenahan hanya berfokus pada pembangunan gedung dan fasilitas, maka akar persoalan pemasyarakatan tidak akan pernah terselesaikan.

“Yang paling penting bukan seberapa megah penjaranya, tetapi seberapa baik manusia yang membina manusia di dalamnya,” pungkas Mafirion. (fer)