Guru Besar IPB: Ibu Menyusui Tidak Wajib Puasa, Perhatikan Asupan Gizi agar ASI Tetap Lancar

Produksi ASI sangat dipengaruhi oleh asupan makanan ibu. Jika kebutuhan gizi tidak tercukupi, produksi ASI berpotensi menurun dan berdampak langsung pada bayi.

Jumat, 20 Februari 2026 - 11:00 WIB
Guru Besar IPB: Ibu Menyusui Tidak Wajib Puasa, Perhatikan Asupan Gizi agar ASI Tetap Lancar
Ibu menyusui aman saat jalani ibadah puasa. Foto: Humas IPB

HALLONEWS.ID – Ibu menyusui kerap diliputi kekhawatiran saat menjalankan ibadah puasa Ramadan karena takut produksi air susu ibu (ASI) menurun.

Menanggapi hal tersebut, Guru Besar Ilmu Gizi IPB University, Rizal M Damanik menegaskan bahwa puasa bagi ibu menyusui tidak bersifat wajib dan memiliki ketentuan khusus dalam ajaran Islam.

“Puasa Ramadan memang diwajibkan bagi umat Islam, tetapi bagi ibu menyusui ada dispensasi. Artinya, tidak wajib berpuasa dan dapat menggantinya dengan membayar fidiah,” kata Prof Rizal melalui rilisnya yang diterima wartawan media ini Jumat (20/2/2026).

Meski demikian, ia menyebut ibu menyusui tetap diperbolehkan berpuasa apabila merasa mampu dan kondisi ibu serta bayi dalam keadaan aman. Namun, pelaksanaannya perlu dilakukan secara bijak dan bertahap.

“Kalau ibu menyusui ingin berpuasa, sebaiknya dicoba dulu secara bertahap, misalnya setengah hari. Lihat apakah aman atau tidak, karena ibu menyusui tetap memiliki kewajiban utama untuk memenuhi kebutuhan ASI bayinya,” ujarnya.

Prof Rizal mengingatkan, produksi ASI sangat dipengaruhi oleh asupan makanan ibu. Jika kebutuhan gizi tidak tercukupi, produksi ASI berpotensi menurun dan berdampak langsung pada bayi.

“Jangan sampai keinginan ibu untuk berpuasa justru membuat bayinya kekurangan ASI. Produksi ASI sangat tergantung pada apa yang dikonsumsi ibu,” tegasnya.

Ia menekankan pentingnya memanfaatkan waktu sahur secara optimal. Sahur menjadi momen krusial bagi ibu menyusui untuk memenuhi kebutuhan gizi, mengingat durasi puasa dapat berlangsung lebih dari 12 jam setiap hari selama sebulan penuh.

“Pada saat sahur, ibu menyusui harus mengonsumsi makanan bergizi dengan komposisi lengkap, terutama protein dan lemak yang cukup. Jangan justru diet atau mengurangi porsi makan, karena itu bisa menurunkan produksi ASI,” jelasnya.

Menurutnya, makanan bergizi tidak harus mahal. Yang terpenting adalah komposisinya seimbang dan bervariasi.

“Makanan bergizi itu tidak harus mahal. Yang penting ada protein, lemak cukup, karbohidrat, dan variasi menu. Jangan menunya itu-itu saja,” katanya.

Ia mencontohkan, sumber protein tidak hanya berasal dari daging, tetapi juga bisa diperoleh dari telur ayam, telur puyuh, serta bahan pangan lainnya.

Selain itu, konsumsi sayur dan buah juga sangat penting untuk menunjang kesehatan ibu dan bayi.

Prof Rizal juga menyebutkan bahwa ibu menyusui dapat mengonsumsi sayur torbangun untuk membantu meningkatkan produksi ASI.

Saat ini, torbangun tidak hanya tersedia dalam bentuk sayuran segar, tetapi juga dalam bentuk kapsul.

“Sayur torbangun bisa dikonsumsi langsung atau dalam bentuk kapsul yang sekarang sudah banyak tersedia. Ini dapat membantu meningkatkan produksi ASI selama Ramadan,” ungkapnya.

Ia menegaskan, pemenuhan gizi yang baik pada ibu menyusui tidak hanya penting untuk menjaga kesehatan ibu dan bayi, tetapi juga berkontribusi dalam upaya jangka panjang menekan angka stunting.

“Pemenuhan gizi yang baik pada ibu hamil dan ibu menyusui sangat berkontribusi dalam mengurangi prevalensi stunting,” pungkasnya. (opy)