Jejak Sejarah Hari Buruh 1 Mei, dari Era Kolonial hingga Reformasi di Indonesia

Sejarah Hari Buruh 1 Mei penuh perjuangan, dari tragedi Haymarket hingga akhirnya jadi hari libur nasional di Indonesia.

Jumat, 1 Mei 2026 - 9:30 WIB
Jejak Sejarah Hari Buruh 1 Mei, dari Era Kolonial hingga Reformasi di Indonesia
Sejarah rapat serikat buruh tahun 1964. Foto: Gahetna for Hallonews

HALLONEWS.ID – Tanggal 1 Mei selalu datang dengan cerita yang tak sederhana. Ia bukan sekadar hari libur, bukan pula hanya rutinitas tahunan. Di baliknya, tersimpan jejak panjang perjuangan manusia tentang kerja, tentang keadilan, dan tentang martabat.

May Day, atau Hari Buruh Internasional, lahir bukan dari ruang rapat yang nyaman. Ia muncul dari jalanan, dari suara-suara yang dulu dianggap kecil, lalu bergema hingga mengguncang dunia. Akhir abad ke-19, Amerika Serikat menjadi saksi awal dari pergolakan besar kaum pekerja.

Dikutip Hallonews dari berbagai sumber menyebutkan, saat itu buruh dipaksa bekerja hingga 16 jam sehari. Upah rendah, kondisi kerja buruk, dan nihilnya jaminan keselamatan menjadi realitas sehari-hari. Ketimpangan itu akhirnya memicu gelombang perlawanan.

Pada 1 Mei 1886, ribuan pekerja turun ke jalan, menuntut satu hal yang kini terasa wajar: delapan jam kerja sehari. Namun perjuangan itu tidak berjalan damai.

Bentrokan antara aparat dan demonstran pecah di Chicago, dalam peristiwa yang kemudian dikenal sebagai Tragedi Haymarket. Korban berjatuhan, dan banyak aktivis buruh ditangkap. Tapi dari tragedi itulah, dunia menyadari bahwa hak pekerja bukan sesuatu yang bisa diabaikan.

Peristiwa itu menjadi titik balik. Pada 1889, konferensi internasional di Paris menetapkan 1 Mei sebagai Hari Buruh Internasional sebuah simbol solidaritas global bagi para pekerja.

Sejak saat itu, May Day menyebar ke berbagai negara. Ia menjadi panggung bagi tuntutan, harapan, sekaligus peringatan bahwa keadilan sosial masih harus diperjuangkan.

Di Indonesia, gema Hari Buruh sudah terdengar sejak 1920. Saat itu, negeri ini masih berada di bawah penjajahan Belanda. Buruh di sektor perkebunan dan industri hidup dalam kondisi yang jauh dari layak.

Eksploitasi menjadi hal biasa. Upah rendah, jam kerja panjang, dan minimnya perlindungan membuat para pekerja tak punya banyak pilihan selain bertahan atau melawan.
Mereka memilih melawan.

Aksi demonstrasi dan mogok kerja mulai bermunculan. Serikat buruh menjadi wadah penting untuk menyuarakan ketidakadilan yang selama ini terpendam. Namun perjalanan peringatan May Day di Indonesia sempat terhenti.

Pada masa pemerintahan Soeharto, peringatan Hari Buruh tidak lagi dirayakan secara terbuka. Saat itu, May Day dianggap sensitif karena dikaitkan dengan ideologi tertentu. Meski begitu, suara buruh tidak benar-benar hilang.

Ia tetap hidup dalam bentuk tuntutan-tuntutan kecil tentang upah layak, hak cuti, hingga kesejahteraan yang lebih baik. Perubahan besar terjadi setelah reformasi. Pemerintahan B. J. Habibie membuka ruang baru bagi kebebasan berserikat.

Hak buruh untuk berkumpul dan menyuarakan aspirasi kembali diakui. Sejak saat itu, peringatan Hari Buruh kembali marak di berbagai kota.

Ribuan pekerja turun ke jalan, membawa spanduk dan tuntutan mulai dari penghapusan sistem outsourcing, kenaikan upah minimum, hingga perlindungan kerja yang lebih adil. Momentum penting datang pada 2013.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan 1 Mei sebagai hari libur nasional. Keputusan itu menjadi pengakuan resmi bahwa perjuangan buruh adalah bagian penting dari sejarah bangsa.

Kini, May Day memiliki dua wajah. Di satu sisi, ia menjadi hari libur yang dinikmati banyak orang. Di sisi lain, ia tetap menjadi panggung perjuangan bagi para pekerja. Setiap tahun, tuntutan mungkin berubah.

Ada yang berbicara soal upah, ada yang menyoroti jam kerja, ada pula yang menuntut perlindungan bagi pekerja perempuan seperti cuti hamil dan cuti haid hingga kepastian Tunjangan Hari Raya (THR).

Namun satu hal tetap sama: keinginan untuk hidup lebih layak. Di tingkat global, May Day juga memiliki dinamika tersendiri. Beberapa negara menjadikannya simbol besar solidaritas buruh, terutama di negara-negara yang pernah atau masih dipengaruhi ideologi sosialis.

Sementara di Amerika Serikat, tempat lahirnya momentum ini, Hari Buruh justru diperingati waktu berbeda, yakni Senin pertama di bulan September. Ada alasan historis dan politis di balik keputusan itu, termasuk upaya menjauhkan peringatan dari bayang-bayang tragedi Haymarket.

Meski berbeda tanggal, semangatnya tetap sama: menghormati kerja dan memperjuangkan keadilan. Hari ini, ketika banyak orang menikmati libur 1 Mei, mungkin tak semua menyadari bahwa tanggal ini pernah dipenuhi ketegangan, bahkan pertumpahan darah.

May Day adalah pengingat bahwa hak-hak yang kini dianggap biasa jam kerja manusiawi, upah layak, hingga jaminan keselamatan tidak datang begitu saja. Ia diperjuangkan. Dan sampai hari ini, perjuangan itu belum benar-benar selesai. Selamat Hari Buruh! (dul)