Kebun Raya Cibodas Revitalisasi Taman Lumut, Perkuat Edukasi dan Konservasi di Usia ke-174

Kebun Raya Cibodas merevitalisasi Taman Lumut sebagai sarana edukasi dan konservasi. Langkah ini menegaskan komitmen pelestarian keanekaragaman hayati di usia ke-174.

Selasa, 14 April 2026 - 12:00 WIB
Kebun Raya Cibodas Revitalisasi Taman Lumut, Perkuat Edukasi dan Konservasi di Usia ke-174
Humas MNR for hallonews foto : Perayaan ulang tahun kebun Raya Cibodas.

HALLONEWS – Kebun Raya Cibodas (KRC) Cianjur genap berusia 174 tahun dan terus memperkuat perannya dalam konservasi serta edukasi lingkungan. Salah satu langkah terbaru adalah revitalisasi Taman Lumut sebagai fasilitas pembelajaran berbasis alam.

Kebun raya yang berada di kaki Gunung Gede Pangrango ini menjadikan pembaruan tersebut sebagai bagian dari komitmen menghadapi tantangan lingkungan global, seperti perubahan iklim dan degradasi ekosistem.

Taman Lumut KRC merupakan yang terbesar di Indonesia dengan luas sekitar 1.500 meter persegi. Taman ini merepresentasikan tiga kelas utama lumut, yakni, Lumut hati (Hepaticopsida), Lumut tanduk (Anthocerotopsida) dan Lumut daun (Bryopsida).

Sebanyak 35 jenis lumut telah teridentifikasi secara ilmiah melalui kerja sama antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan PT Mitra Natura Raya.

Penataan taman dilakukan dengan menyesuaikan habitat alami, termasuk penggunaan planter dan kolam khusus, sehingga mendukung pertumbuhan optimal lumut.

Selain fungsi konservasi, Taman Lumut juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat. Pengunjung dapat mempelajari evolusi tumbuhan dari non-vascular (tidak berpembuluh) hingga vascular (berpembuluh).

Beberapa spesies yang ditampilkan merupakan lumut asli kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango hasil eksplorasi BRIN, sebagai bagian dari upaya konservasi.

Revitalisasi juga mencakup penataan lanskap dengan tambahan bebatuan yang tidak hanya memperindah taman, tetapi juga berfungsi menjaga kelembapan mikrohabitat—kondisi penting bagi pertumbuhan lumut.

Untuk memperkaya koleksi, KRC menambahkan sejumlah jenis lumut dan tanaman paku akuatik seperti, Taxiphyllum barbieri, Riccia fluitans, Java fern (Microsorum pteropus).

“Tanaman ini dikenal luas dalam dunia aquascape karena keindahan dan kemampuannya hidup di lingkungan berair,” kata Managing Director PT Mitra Natura Raya, Marga Anggrianto kepada wartawan media ini melalui rilisnya Senin (13/4/2026).

Marga menyatakan, revitalisasi ini bertujuan memperkuat pembelajaran berbasis alam.

“Melalui revitalisasi ini, KRC menegaskan komitmennya dalam pengembangan fasilitas edukasi yang interaktif, ilmiah, dan berkelanjutan,” ujarnya.

Dalam perayaan HUT ke-174, KRC juga melakukan penanaman dua spesies pohon langka, yakni Castanopsis argentea (saninten) dan Castanopsis tungurrut.

Saninten merupakan spesies asli Indonesia yang masuk kategori terancam punah (Endangered) menurut International Union for Conservation of Nature.

Pohon ini memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem, seperti mencegah erosi dan menjadi habitat satwa.

Sementara itu, Castanopsis tungurrut adalah tanaman endemik yang juga terancam punah dan hidup di dataran tinggi Sumatra, Jawa, dan Kalimantan.

Mengusung tema “Harmoni Alam untuk Masa Depan: 174 Tahun Kebun Raya Cibodas, Sinergi untuk Keanekaragaman Hayati”, perayaan ini menghadirkan berbagai kegiatan, seperti, bazar tanaman hias, donor darah, kelas edukasi, tur kebun dan pertunjukan seni dan budaya.

Momentum ini memperkuat posisi KRC sebagai pusat konservasi tumbuhan pegunungan tropis, sekaligus destinasi wisata edukatif unggulan.

“Melalui sinergi dan kesadaran bersama, diharapkan upaya pelestarian keanekaragaman hayati dapat terus berlanjut,” kata Marga. (opy)