Melihat Tradisi Adu Perahu Naga hingga Bermain Congklak di Balik Riuhnya Festival Cisadane

Di tengah kota yang terus berkembang, Festival Cisadane seolah mengingatkan bahwa kemajuan tak harus menghapus akar budaya.

Jumat, 24 Juli 2026 - 18:48 WIB
Melihat Tradisi Adu Perahu Naga hingga Bermain Congklak di Balik Riuhnya Festival Cisadane
Perahu Naga (Pemko Tangerang for Hallonews)

HALLONEWS.ID – Lomba dayung perahu naga kembali menjadi salah satu magnet utama di ajang Festival Cisadane 2026, Kota Tangerang, Jumat (24/7/2026). Dalam hitungan detik, puluhan dayung menghantam permukaan air secara serempak.

Perahu naga melesat membelah arus, disambut sorak penonton yang memadati bantaran sungai. Riuh tepuk tangan mengiringi setiap tim yang berusaha menjadi yang tercepat menuju garis finis.

Dari kejauhan bibir Sungai Cisadane, sembilan tim putra dan putri dari jenjang SMP hingga SMA turun berlaga dalam nomor Traditional Boat Race (TBR) 200 meter dan 500 meter mengayuh perahu naga di Sungai Cisadane. Setiap kayuhan menjadi simbol semangat, kerja sama, dan disiplin yang telah mereka bangun melalui latihan panjang. Namun, kemeriahan festival tak hanya berpusat di atas air.

Tak jauh dari lokasi perlombaan, suara tawa anak-anak bercampur dengan bunyi biji congklak yang berpindah dari satu lubang ke lubang lain. Di sudut lain, beberapa remaja mencoba menjaga keseimbangan di atas egrang bambu, sementara anak-anak asyik bermain kelereng dan engklek.

Di tengah dominasi gawai dan permainan digital, area permainan tradisional yang dihadirkan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah Banten menjadi oase nostalgia.

Anak-anak yang sebelumnya hanya mengenal permainan melalui layar ponsel tampak penasaran mencoba permainan yang dahulu akrab dimainkan orang tua mereka. Sementara orang dewasa tak ragu ikut antre, larut dalam kenangan masa kecil.

Bagi Abdul Hafiz (46), arena itu seperti mesin waktu yang membawanya kembali puluhan tahun ke belakang.

“Seru sekali. Permainan tradisional sekarang sudah mulai dilupakan anak muda. Di sini kami jadi bisa mengingat lagi masa kecil yang penuh permainan sederhana, tapi menyenangkan,” katanya sambil tersenyum.

Menurut Pegawai Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Banten, Sarmad, kehadiran permainan tradisional bukan sekadar hiburan pelengkap festival.

Ada misi yang lebih besar, yakni memperkenalkan kembali warisan budaya yang perlahan mulai tersisih oleh perkembangan teknologi.

“Harapannya generasi muda tidak hanya mengenal, tetapi juga ikut memainkan dan melestarikannya,” ujarnya.

Tak hanya permainan tradisional, stan BPK juga menghadirkan karya lukis dan kerajinan tangan hasil kreativitas siswa Sekolah Khusus (SKH). Pengunjung pun diajak mengikuti workshop melukis hingga membatik, memberi pengalaman langsung menyentuh proses lahirnya karya seni tradisional.

Festival Cisadane tahun ini menghadirkan dua wajah yang berjalan beriringan.
Di satu sisi, semangat kompetisi para atlet muda yang berpacu membelah Sungai Cisadane. Di sisi lain, kesederhanaan permainan tradisional yang mengajarkan kebersamaan tanpa membutuhkan listrik maupun jaringan internet.

Di tengah kota yang terus berkembang, Festival Cisadane seolah mengingatkan bahwa kemajuan tak harus menghapus akar budaya. Justru melalui perahu naga yang melaju di sungai dan congklak yang kembali dimainkan di pelataran festival, tradisi menemukan ruang baru untuk tetap hidup dan dikenang lintas generasi. (iin)