Dolar AS Tembus Rp18.132! Rupiah Makin Tertekan, Ini Penyebab dan Dampaknya
Nilai tukar dolar AS menembus Rp18.132 pada perdagangan 8 Juni 2026. Rupiah kembali melemah di tengah penguatan mata uang Amerika Serikat, memicu kekhawatiran terhadap harga impor dan biaya hidup.

HALLONEWS.ID – Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan tren penguatan terhadap rupiah.
Pada perdagangan Senin (8/6/2026), mata uang Negeri Paman Sam bahkan berhasil menembus level Rp18.132, menjadi salah satu posisi tertinggi sepanjang tahun ini.
Berdasarkan data pasar valuta asing, dolar AS dibuka menguat dan terus melanjutkan kenaikannya hingga menyentuh angka Rp18.132 pada pagi hari.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di kisaran Rp18.036 per dolar AS.
Sepanjang tahun 2026, dolar AS tercatat telah menguat sekitar 8,6 persen terhadap rupiah.
Kondisi ini menunjukkan tekanan yang masih membayangi mata uang Indonesia di tengah berbagai dinamika ekonomi global.
Meski menguat terhadap rupiah, pergerakan dolar AS terhadap mata uang utama dunia cenderung bervariasi. Terhadap euro dan poundsterling, misalnya, dolar AS justru mengalami pelemahan tipis.
Namun mata uang AS masih mampu mencatatkan penguatan terhadap yen Jepang, dolar Kanada, dan franc Swiss.
Penguatan dolar AS menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi berbagai sektor ekonomi domestik. Kenaikan nilai dolar dapat meningkatkan biaya impor bahan baku, barang elektronik, hingga produk energi yang masih bergantung pada transaksi menggunakan mata uang AS.
Di sisi lain, pelemahan rupiah juga dapat berdampak pada masyarakat yang memiliki kebutuhan pembayaran dalam dolar, seperti biaya pendidikan luar negeri, perjalanan internasional, maupun cicilan utang berbasis valuta asing.
Pemerintah dan otoritas moneter sebelumnya telah menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Upaya tersebut dilakukan guna meredam volatilitas pasar sekaligus menjaga kepercayaan investor terhadap perekonomian nasional.
Pelaku pasar kini menantikan kebijakan lanjutan dari pemerintah dan bank sentral untuk menahan laju pelemahan rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung. (min)
