Waspada! Hantavirus Serang Paru dan Ginjal, Dinkes Bekasi Bagikan Cara Pencegahannya
Dinkes Kota Bekasi mengimbau warga waspada hantavirus yang ditularkan tikus. Penyakit ini dapat menyerang paru-paru dan ginjal dengan risiko fatal bila terlambat ditangani.

HALLONEWS.ID – Kementerian Kesehatan RI mencatat kemunculan 23 kasus hantavirus jenis Seoul Virus dalam tiga tahun terakhir di Indonesia.
Dari jumlah tersebut, tiga pasien dilaporkan meninggal dunia dengan tingkat kematian atau case fatality rate (CFR) mencapai 13 persen.
Sepanjang 2026, tercatat ada tambahan lima kasus baru. Sebagian besar pasien kini telah dinyatakan sembuh, sementara kasus terbanyak ditemukan di wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat dan wilayah sekitarnya.
Di tengah munculnya kasus tersebut, Dinas Kesehatan Kota Bekasi meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran hantavirus, meski hingga kini belum ditemukan kasus di Kota Bekasi.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bekasi Satia Sriwijayanti Anggraini mengatakan masyarakat perlu memahami bahaya penyakit yang ditularkan tikus tersebut karena dapat menyerang organ vital manusia.
”Hantavirus belum terdeteksi di Bekasi. Tapi masyarakat harus tetap waspada dan kenali ciri-cirinya,” kata Satia kepada Hallonews, Minggu (10/5/2026).
Apa Itu Hantavirus?
Satia menjelaskan, hantavirus merupakan penyakit zoonosis atau infeksi yang menular dari hewan ke manusia, terutama melalui tikus.
Virus ini tidak menular antar manusia, namun menyebar lewat paparan urin, air liur, maupun kotoran tikus mengering bercampur debu di udara.
Infeksi hantavirus dapat memicu dua kondisi serius, yakni Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru dan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal.
”Dalam kondisi berat, angka kematian penyakit ini disebut bisa mencapai 38 persen apabila terlambat ditangani,” ungkapnya.
Dinkes Bekasi menjelaskan penularan paling sering terjadi saat seseorang membersihkan area tertutup yang lama tidak digunakan, seperti gudang, loteng, hingga bangunan kosong yang dipenuhi kotoran tikus.
Virus dapat masuk ke tubuh ketika debu halus yang terkontaminasi terhirup tanpa perlindungan.
Karena itu, masyarakat diminta tidak membersihkan kotoran tikus dengan cara disapu kering karena justru bisa membuat partikel virus beterbangan di udara.
Gejala awal hantavirus sering kali menyerupai flu biasa, seperti demam tinggi, nyeri otot, tubuh lemas, mual, hingga muntah.
“Namun dalam fase lanjut, penderita dapat mengalami sesak napas, batuk, serta dada terasa berat atau tertekan,” ucapnya.
Warga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala tersebut setelah kontak dengan tikus atau lingkungan yang tercemar kotoran tikus.
Untuk mencegah penyebaran hantavirus, Dinkes Kota Bekasi mengimbau warga menerapkan langkah pencegahan “3M Plus”.
Langkah pertama yakni menutup seluruh celah atau lubang yang berpotensi menjadi jalan masuk tikus ke rumah.
Kedua, membersihkan kotoran tikus dengan cara aman menggunakan cairan disinfektan atau campuran pemutih sebelum dilap. Warga juga disarankan memakai masker N95 dan sarung tangan saat membersihkan area tercemar.
Ketiga, menyimpan makanan dalam wadah tertutup rapat agar tidak mengundang tikus.
Selain itu, masyarakat juga diminta rutin membuka ventilasi ruangan tertutup, menjemur kasur, dan membersihkan gudang secara berkala.
Satia menyebut seluruh puskesmas telah diminta meningkatkan kewaspadaan dan melakukan edukasi kepada masyarakat terkait potensi penyebaran penyakit tersebut.
“Hantavirus bisa dicegah. Kuncinya perilaku hidup bersih dan sehat serta pengendalian tikus,” tandasnya. (dul)
