Aktivis Buruh Kritis Tewas Jelang Sahur di Bekasi, Eks Kabareskrim: Ada Hal Janggal!

Kematian aktivis buruh Ermanto Usman di Bekasi memicu tanda tanya. Eks Kabareskrim Susno Duadji menilai ada indikasi pembunuhan berkedok perampokan.

Jumat, 6 Maret 2026 - 21:11 WIB
Aktivis Buruh Kritis Tewas Jelang Sahur di Bekasi, Eks Kabareskrim: Ada Hal Janggal!
Eks Kabareskrim Polri Komjen (Purn) Susno Duadji. (Dok Hallonews)

HALLONEWS.ID – Penyelidikan kasus kematian aktivis buruh Ermanto Usman di Bekasi masih terus bergulir. Kepolisian hingga kini berupaya mengungkap motif di balik penyerangan brutal yang menewaskan pria berusia 65 tahun tersebut dan membuat istrinya mengalami luka parah.

Eks Kabareskrim Polri Komjen (Purn) Susno Duadji menilai ada sejumlah hal yang perlu dicermati secara mendalam dalam kasus ini. Penyidik harus memastikan apakah peristiwa tersebut murni perampokan atau pembunuhan yang disamarkan sebagai tindak pencurian.

“Harus dibedakan, apakah ini perampokan yang berujung pada hilangnya nyawa seseorang atau pembunuhan yang dikamuflasekan seolah-olah perampokan,” kata Susno kepada wartawan, Jumat (6/3/2026).

Menurut dia, langkah paling awal yang harus dilakukan penyidik adalah menelusuri aktivitas korban melalui keterangan orang-orang terdekat. Informasi dari keluarga dan lingkungan sekitar dinilai penting untuk memetakan kemungkinan motif di balik kejadian tersebut.

Selain itu, meski tidak terdapat kamera pengawas atau CCTV di lokasi kejadian, Susno menilai polisi masih memiliki sejumlah petunjuk yang dapat digali dari tempat kejadian perkara.

Salah satunya adalah keberadaan korban selamat, yakni istri Ermanto, yang saat ini masih menjalani perawatan akibat luka serius di bagian kepala.

“Masih ada korban yang hidup, yaitu istrinya. Dari situ bisa didalami lagi. Kemudian dilihat juga apakah ada barang berharga yang tidak diambil atau justru ada barang yang hilang,” ujarnya.

Susno juga menyoroti informasi mengenai hilangnya kunci mobil milik korban di lokasi kejadian, sementara kendaraan tersebut tidak dibawa pelaku. Menurutnya, hal itu bisa menjadi salah satu indikasi bahwa pelaku memiliki tujuan tertentu.

“Bisa saja kunci mobil itu diambil supaya orang tidak bisa mengejar pelaku menggunakan kendaraan. Atau bisa juga untuk mengaburkan jejak agar terlihat seperti pencurian biasa,” ungkapnya.

Lebih jauh, ia menyarankan penyidik menelusuri latar belakang aktivitas korban dalam beberapa waktu terakhir. Berdasarkan keterangan keluarga, Ermanto dikenal sebagai aktivis buruh sekaligus pegiat antikorupsi.

Susno menilai penting bagi penyidik untuk menelusuri isu atau kasus apa yang terakhir kali disoroti oleh korban.

“Kalau memang dia aktif dalam isu antikorupsi, perlu dilihat kasus apa yang terakhir dia bicarakan. Siapa yang terkait di dalamnya. Itu harus didalami,” ucapnya.

Susno menambahkan, apabila peristiwa tersebut murni perampokan, biasanya pelaku akan mengambil barang-barang berharga dalam jumlah besar.

Namun jika korban sampai tewas sementara tidak banyak barang yang hilang, kondisi itu bisa memunculkan dugaan bahwa motif kejahatan tidak sesederhana pencurian.

“Kalau sampai membunuh, biasanya orang akan berasumsi ini perampokan besar. Tapi kalau barang yang diambil tidak signifikan, tentu perlu dianalisis lebih jauh,” tegasnya.

Diberitakan sebelumnya, kasus dugaan perampokan disertai kekerasan yang menewaskan Ermanto Usman (65) di kediamannya, Perumahan Prima Asri Blok B4, Kelurahan Jatibening, Pondokgede, Kota Bekasi, Senin 2 Maret 2026

Ermanto meninggal dunia akibat pukulan benda tumpul di bagian kepala, sementara istrinya, Pasmilawati (60), mengalami luka berat dan kini menjalani perawatan intensif di RS Primaya Kalimalang, Bekasi. (dul)