Nasionalisme di Era Digital: Antara Etika, Reaksi Sesaat, dan Tantangan Ruang Maya

Diskusi podcast menyoroti perubahan makna nasionalisme di era digital, dari pentingnya etika bermedia sosial hingga fenomena nasionalisme reaktif di kalangan generasi muda.

Selasa, 5 Mei 2026 - 5:00 WIB
Nasionalisme di Era Digital: Antara Etika, Reaksi Sesaat, dan Tantangan Ruang Maya
Seminar bertema nasionalisme bahas etika diruang media sosial. Foto: Hallonews/yopy

HALLONEWS.ID – Perkembangan teknologi digital dan media sosial turut mengubah cara generasi muda memaknai nasionalisme.

Hal ini menjadi sorotan dalam sebuah diskusi publik yang mengangkat tema nasionalisme di tengah derasnya arus informasi di ruang maya.

Sekretaris Jenderal Gerakan Bela Negara Membangun Indonesia (GBNMI), Hanif Adriansyah, menilai bahwa nasionalisme saat ini tidak lagi identik dengan simbol formal atau kegiatan seremonial.

Menurutnya, ekspresi cinta tanah air kini lebih banyak tercermin dalam perilaku sehari-hari, khususnya saat berinteraksi di media sosial.

“Saya tekankan bahwa, kebebasan berekspresi di ruang digital harus diimbangi dengan tanggung jawab,” kata Hanif dikutip wartawan media ini Senin (4/5/2026).

Etika dalam bermedia sosial, kata Hanif, menjadi indikator penting dalam menunjukkan sikap nasionalisme di era modern.

Hanif juga mengingatkan agar ruang digital tidak dipenuhi oleh konflik dan polarisasi yang dapat merusak persatuan.

Menurutnya, menjaga interaksi yang sehat di dunia maya merupakan bagian dari kontribusi nyata terhadap bangsa.

Sementara itu, pandangan berbeda disampaikan oleh Bang Annam. Ia melihat bahwa nasionalisme generasi muda cenderung bersifat reaktif dan muncul ketika ada pemicu tertentu, seperti konflik atau kritik dari pihak luar di media sosial.

Fenomena tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa semangat nasionalisme sering kali baru menguat saat muncul tekanan eksternal.

Sebaliknya, dalam kondisi normal, generasi muda justru lebih banyak mengonsumsi budaya asing tanpa refleksi kritis.

Pendapat ini diperkuat oleh Wakil Kepala Bidang Media Gerbang Indonesia, Brian Samosir, yang mengaitkan fenomena tersebut dengan perilaku digital generasi muda.

Ia menyoroti adanya kecenderungan fear of missing out (FOMO) yang memicu respons kolektif di media sosial.

Menurut Brian, nasionalisme di era digital dapat muncul dari hal-hal sederhana, namun tantangan terbesarnya adalah menjaga agar semangat tersebut tidak bersifat sementara.

“Perlu adanya upaya yang lebih serius untuk menghadirkan nilai-nilai kebangsaan secara konsisten di ruang digital,” kata Brian.

Lebih lanjut, ia menyoroti bahwa berbagai program penguatan nasionalisme masih belum optimal menyasar platform digital, padahal ruang tersebut menjadi tempat utama interaksi generasi muda saat ini.

Diskusi ini menunjukkan bahwa nasionalisme di era digital tidak hilang, melainkan mengalami transformasi.

“Tantangannya kini terletak pada bagaimana menjaga konsistensi nilai tersebut di tengah dinamika media sosial yang cepat dan sering kali reaktif,” tegas Brian Samosir. (opy)