Mentan Amran Siapkan Rp40 Miliar untuk Pulihkan Kebun Kopi Gayo Pascabanjir

Mentan Andi Amran Sulaiman menyiapkan anggaran hingga Rp40 miliar untuk membangun kembali pusat pembibitan kopi di Aceh.

Kamis, 7 Mei 2026 - 11:30 WIB
Mentan Amran Siapkan Rp40 Miliar untuk Pulihkan Kebun Kopi Gayo Pascabanjir
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan pihaknya telah menyiapkan anggaran Rp40 miliar. Foto: Kementan for Hallonews

HALLONEWS.ID — Pemerintah mulai menyiapkan langkah pemulihan sektor kopi di Aceh setelah bencana banjir dan longsor yang melanda dataran tinggi Gayo pada akhir 2025 lalu merusak ribuan hektare kebun kopi.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan pihaknya telah menyiapkan anggaran sekitar Rp30 miliar hingga Rp40 miliar untuk membangun kembali pusat pembibitan kopi di wilayah tersebut.

Program pemulihan itu akan dijalankan melalui kerja sama dengan Universitas Syiah Kuala guna mempercepat rehabilitasi kawasan perkebunan kopi terdampak.

“Kami sudah bertemu dengan Rektor USK untuk membahas kerja sama pembangunan pembibitan kopi dan pemulihan kawasan terdampak,” ujar Amran di Jakarta Selatan, Rabu (6/5/2026).

Menurutnya, langkah tersebut penting dilakukan untuk menjaga keberlanjutan produksi kopi Gayo yang selama ini menjadi salah satu komoditas unggulan ekspor Indonesia.

Bencana banjir dan longsor yang terjadi pada November 2025 menyebabkan kerusakan cukup parah di kawasan dataran tinggi Gayo, terutama di Aceh Tengah dan Bener Meriah yang dikenal sebagai sentra utama kopi arabika nasional.

Peneliti dari Pusat Riset Kopi dan Kakao USK, Abu Bakar, sebelumnya menjelaskan bahwa bencana tersebut memperburuk tekanan yang sudah lebih dulu dialami sektor kopi akibat perubahan iklim.

Ia menyebut longsor menyebabkan hilangnya lapisan tanah atas yang sangat penting bagi pertumbuhan tanaman kopi. Sementara itu, banjir membuat tanaman mengalami stres sehingga produktivitas dan kualitas hasil panen menurun.

Selain kerusakan tanaman, petani juga menghadapi persoalan lain seperti rusaknya lahan, terganggunya distribusi hasil panen, hingga meningkatnya resiko serangan hama dan penyakit tanaman.

Beberapa kebun kopi bahkan dilaporkan tertutup material longsor sehingga membutuhkan proses rehabilitasi dan penanaman ulang dalam waktu yang tidak singkat.

Kondisi tersebut sempat memicu kekhawatiran terhadap pasokan kopi arabika Gayo di pasar domestik maupun ekspor. Penurunan produksi dari salah satu sentral kopi terbesar di Indonesia dikhawatirkan terdampak pada kenaikan harga kopi nasional. (agn)