AHY Semprot Ego Kementerian, Giant Sea Wall Dikebut Lindungi Pantura

AHY soroti ego sektoral antarkementerian yang dinilai menghambat pembangunan. Pemerintah juga menargetkan proyek Giant Sea Wall Pantura mulai dibangun pada 2027.

Sabtu, 23 Mei 2026 - 19:00 WIB
AHY Semprot Ego Kementerian, Giant Sea Wall Dikebut Lindungi Pantura
Menko AHY menyatakan pemerintah melalui PT PLN (Persero) saat ini sedang melakukan pengecekan menyeluruh terhadap sistem kelistrikan yang terdampak. (Hallonews/Agung Nugroho).

HALLONEWS.ID – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menyoroti masih kuatnya ego sektoral di lingkungan birokrasi pemerintahan.

Menurutnya, pola kerja antar kementerian dan lembaga yang berjalan sendiri-sendirikerap menghambat percepatan program pembangunan nasional.

Pernyataan tersebut disampaikan AHY usai menghadiri Musyawarah Nasional (Munas) XI Ikatan Alumni SMA Taruna Nusantara (Ikastara) di Wisma Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (23/5/2026).

AHY menilai sejumlah instansi masih merasa memiliki prioritas paling penting sehingga muncul persaingan dalam perebutan anggaran maupun kewenangan, padahal seluruh kementerian sejatinya bekerja untuk tujuan yang sama.

“Sering kali masih ada sekat antarlembaga. Semua merasa programnya paling penting dan ingin mendapatkan porsi anggaran lebih besar, padahal target akhirnya sama untuk kepentingan masyarakat,” ujar AHY.

Giant Sea Wall Target Pada 2027

Dalam kesempatan itu, AHY juga membahas perkembangan proyek Giant Sea Wall atau tanggul laut raksasa di pesisir utara Pulau Jawa. Pemerintah, kata dia, menargetkan proyek tersebut mulai memasuki tahap pembangunan pada 2027.

Menurut AHY, saat ini pemerintah masih menyempurnakan konsep dan desain proyek karena cakupannya sangat besar serta melibatkan banyak daerah dan pemangku kepentingan.

Ia menjelaskan proyek Giant Sea Wall tidak hanya menyangkut satu wilayah, tetapi mencakup lima provinsi, puluhan kabupaten dan kota di kawasan Pantai Utara Jawa yang selama ini menghadapi ancaman banjir rob dan penurunan muka tanah.

“Konsepnya sedang dimatangkan supaya implementasinya benar-benar terukur karena proyek ini melibatkan banyak wilayah dan kepentingan strategis,” katanya.

50 Juta Masyarakat Tinggal di Pantura

AHY mengungkapkan sekitar 50 juta penduduk tinggal di kawasan Pantura yang kini semakin rentan terdampak krisis lingkungan, terutama akibat kenaikan permukaan laut dan penurunan tanah yang terjadi setiap tahun.

Beberapa wilayah seperti Teluk Jakarta, Semarang, Demak, hingga Kendal disebut menjadi daerah yang paling rawan mengalami banjir rob dan intrusi air laut.

Penurunan Permukaan Tanah

Menurut dia, penurunan muka tanah di sejumlah kawasan bahkan mencapai 5 hingga 20 sentimeter per tahun sehingga membutuhkan solusi infrastruktur jangka panjang.

Selain untuk melindungi permukiman warga, proyek Giant Sea Wall juga disiapkan guna menjaga kawasan industri strategis, kawasan ekonomi khusus, hingga sentra pangan nasional agar tidak terdampak kerusakan lingkungan pesisir.

AHY menegaskan pemerintah ingin proyek tersebut menjadi bagian penting dari upaya perlindungan wilayah pesisir sekaligus menjaga stabilitas ekonomi nasional di masa depan. (agn)