Jakarta dan Bekasi Rawan Begal, Polisi Telusuri Jaringan Pelaku Lewat Digital Forensik

Polda Metro Jaya memeriksa hampir 200 ponsel milik pelaku begal dan para penadah untuk membongkar dugaan jaringan kejahatan jalanan di Jakarta dan Bekasi.

Minggu, 24 Mei 2026 - 9:10 WIB
Jakarta dan Bekasi Rawan Begal, Polisi Telusuri Jaringan Pelaku Lewat Digital Forensik
Hallonews foto : Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Iman Imannuddin.

HALLONEWS.ID – Aksi begal yang meresahkan di Jadetabek mulai dibongkar lebih dalam oleh aparat kepolisian. Polda Metro Jaya tak hanya memburu pelaku di lapangan, tetapi menelusuri kemungkinan adanya jaringan besar di balik maraknya kejahatan jalanan tersebut.

Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) memeriksa 200 telepon genggam milik pelaku begal hingga penadah hasil kejahatan. Ratusan perangkat itu dianalisis menggunakan digital forensik guna mengungkap kemungkinan pola komunikasi dan keterlibatan jaringan lain.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Iman Imannuddin mengatakan, seluruh gawai sitaan saat ini sedang diperiksa secara intensif di laboratorium digital forensik Polri untuk melacak jaringan dan pola aksi mereka.

“Dari hampir 200 gawai yang kami sita dari tangan pelaku maupun penadah, saat ini sedang dilakukan analisa digital di laboratorium digital forensik Polri,” kata Iman, Minggu (24/5/2026).

Pemeriksaan dilakukan di Puslabfor Polri dan Direktorat Siber Polda Metro Jaya. Polisi menduga ada pola terorganisir di balik meningkatnya aksi begal yang belakangan marak terjadi di sejumlah titik rawan ibu kota.

Menurut Iman, penyidik kini tengah mendalami kemungkinan adanya skema lain di luar aksi kriminal biasa. Polisi ingin memastikan apakah para pelaku bekerja secara acak atau justru terhubung dengan jaringan tertentu.

“Kami sedang melakukan pendalaman terhadap kemungkinan adanya dugaan skema-skema lain di balik kejadian kejahatan yang terjadi beberapa waktu terakhir,” ucapnya.

Langkah digital forensik itu dinilai penting karena ponsel para pelaku diduga menyimpan banyak petunjuk, mulai dari percakapan, transaksi penjualan barang hasil curian, hingga dugaan komunikasi antar kelompok.

Berdasarkan catatan kasus sepanjang April hingga Mei 2026, Jakarta Barat menjadi salah satu kawasan paling rawan aksi begal. Sejumlah titik gelap dan minim pengawasan menjadi sasaran favorit para pelaku.

Selain Jakarta Barat, wilayah Jakarta Timur dan Jakarta Utara juga disebut masuk kategori rawan karena banyak memiliki jalur sepi dan minim CCTV. Berikut sejumlah titik yang disebut rawan begal menurut Polda Metro Jaya:

– Jalan Arjuna Selatan, Palmerah dan Kebon Jeruk
– Kawasan Taman Sari
– Area sekitar Stasiun Grogol Petamburan
– Duri Kepa dan pintu keluar Tol Rawa Buaya
– Flyover Kampung Melayu
– Klender dan Duren Sawit
– Underpass Senen
– Jalan Letjen Suprapto dan Kemayoran
– Jalan RE Martadinata hingga Tanjung Priok
– Pluit Selatan dan Cilincing
Polisi menyebut para pelaku umumnya memanfaatkan flyover, jalur bypass, hingga jalan dekat akses tol untuk melancarkan aksi dan kabur dengan cepat. Tak hanya Jakarta, wilayah penyangga seperti Bekasi, Depok, dan Tangerangangka kejahatan jalanan terus meningkat.

Salah satu kawasan yang disebut rawan ialah Jalan Raya Bogor dari Kramat Jati hingga Ciracas. Jalur panjang dengan penerangan minim membuat wilayah itu kerap menjadi lokasi aksi begal pada dini hari.

Selain itu, kawasan Banjir Kanal Timur (BKT) juga dinilai rawan karena kondisi jalan yang sepi saat malam hingga menjelang pagi. (dul)