Masuk Musim Kemarau, Kenapa Hujan Lebat Masih Terjadi? Ini Penjelasan BMKG

BMKG menjelaskan alasan hujan lebat masih terjadi di Indonesia mulai memasuki musim kemarau. Simak faktor cuaca yang memengaruhinya serta daerah yang perlu waspada.

Jumat, 5 Juni 2026 - 14:30 WIB
Masuk Musim Kemarau, Kenapa Hujan Lebat Masih Terjadi? Ini Penjelasan BMKG
BMKG for Hallonews foto: Citra satelit visualisasi cuaca dan iklim Indonesia.

HALLONEWS.ID – Sejumlah wilayah Indonesia mulai memasuki musim kemarau. Namun di saat yang sama, hujan lebat hingga cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan kondisi cuaca di Indonesia saat ini berada dalam masa transisi yang ditandai dengan meningkatnya hari tanpa hujan di sejumlah daerah, tetapi masih disertai potensi hujan deras.

Berdasarkan analisis BMKG, sekitar 28,6 persen zona musim di Indonesia telah memasuki musim kemarau.

“Wilayah yang lebih dulu mengalami kemarau umumnya berada di bagian selatan Indonesia akibat menguatnya Monsun Australia yang membawa massa udara kering,” tulis BMKG, dikutip Hallonews, Jumat (5/6/2026).

Dampaknya, suhu udara di sejumlah daerah mulai terasa lebih panas. Bahkan dalam beberapa hari terakhir, suhu maksimum di atas 35 derajat Celsius tercatat di Sumatera Utara, Riau, Lampung, Banten, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah hingga Papua.

BMKG menegaskan musim kemarau bukan berarti hujan berhenti sepenuhnya. Faktanya, hujan intensitas sedang hingga lebat masih terjadi di berbagai daerah. Curah hujan tertinggi di Sumatera Utara, Papua Tengah, Kalimantan Tengah, Bangka Belitung, Kalimantan Utara, dan Papua Barat.

Kondisi tersebut dipengaruhi berbagai faktor atmosfer yang masih aktif, mulai dari Gelombang Kelvin, Gelombang Rossby Ekuatorial, hingga sirkulasi siklonik di kawasan Papua yang memicu pertumbuhan awan hujan.

Selain itu, BMKG juga mendeteksi kondisi El Nino lemah di Samudra Pasifik yang umumnya berpengaruh terhadap berkurangnya curah hujan di sebagian wilayah Indonesia. Namun sepekan ke depan, dinamika atmosfer regional berpotensi memicu hujan signifikan di sejumlah daerah.

Pada periode 5 hingga 7 Juni 2026, hujan dengan intensitas sedang diprakirakan terjadi di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku hingga Papua.

BMKG juga mengeluarkan peringatan dini hujan lebat hingga sangat lebat untuk wilayah Maluku, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan.

Sementara itu, angin kencang berpotensi melanda sejumlah wilayah seperti Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan, Sulawesi hingga Papua.

Memasuki periode 8 hingga 11 Juni 2026, hujan masih diprediksi mengguyur sebagian wilayah Indonesia, terutama di kawasan Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua.

BMKG mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, pohon tumbang, hingga gangguan transportasi darat, laut, dan udara.

Bagi masyarakat yang berada di wilayah yang sudah memasuki musim kemarau, BMKG juga mengimbau untuk mengurangi paparan sinar matahari secara langsung, menggunakan pelindung saat beraktivitas di luar ruangan, dan memperbanyak konsumsi air guna mencegah dehidrasi.

“Musim kemarau bukan berarti tidak ada hujan. Cuaca masih dapat berubah secara cepat sehingga masyarakat perlu terus memantau informasi cuaca resmi dari BMKG,” demikian imbauan BMKG. (dul)