Kemarau Makin Parah, Warga Diimbau Waspada Penurunan Kualitas Air Sungai
Memasuki puncak musim kemarau, kondisi Bendungan Ciawi di Bogor dipastikan masih normal

HALLONEWS.ID – Memasuki puncak musim kemarau, kondisi Bendungan Ciawi di Kabupaten Bogor dipastikan masih aman dan beroperasi secara normal.
Meski demikian, masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai dampak musim kemarau, mulai dari potensi kebakaran lahan hingga menurunnya kualitas air sungai akibat penyusutan debit.
Kepala Unit Pengelola Bendungan Ciawi, Bayu, menjelaskan cuaca kering yang berlangsung dalam beberapa waktu terakhir menyebabkan aliran sungai mengalami penurunan cukup signifikan.
Kondisi tersebut merupakan fenomena yang umum terjadi saat curah hujan menurun pada musim kemarau.
Menurut Bayu, berkurangnya volume air sungai tidak hanya berdampak pada ketersediaan air, tetapi juga memengaruhi kualitasnya.
Debit yang rendah membuat konsentrasi polutan di sungai meningkat sehingga berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan apabila air digunakan tanpa melalui proses pengolahan.
“Aliran air sungai sekarang ini sangat surut. Di musim kemarau seperti ini masyarakat juga harus berhati-hati terhadap potensi kebakaran. Air sungai yang debitnya menurun juga bisa menyebabkan rasa gatal karena konsentrasi polusinya tetap,” ujar Bayu dikutip wartawan media ini Selasa (21/7/2026).
Meski debit sungai terus menyusut, kondisi Bendungan Ciawi hingga kini masih dinyatakan stabil. Berdasarkan data operasional per 20 Juli 2026 pukul 07.00 WIB, seluruh parameter utama bendungan masih berada dalam batas normal.
Data tersebut mencatat elevasi inlet berada di angka +505,72 dengan tinggi muka air (TMA) 1,52 meter, sedangkan elevasi outlet berada di +487,36 dengan tinggi muka air 0,44 meter.
Kondisi itu menunjukkan fungsi bendungan sebagai infrastruktur pengendali air tetap berjalan optimal meski menghadapi penurunan debit sungai selama musim kemarau.
Selain memastikan keamanan bendungan, pengelola juga mengingatkan masyarakat agar menggunakan air secara bijak untuk menjaga ketersediaan pasokan hingga musim hujan tiba.
Warga juga diminta menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, terutama di kawasan lahan kering maupun sempadan sungai.
Cuaca panas yang disertai vegetasi mengering meningkatkan risiko kebakaran apabila terdapat sumber api, sekecil apa pun.
Di sisi lain, masyarakat diimbau tidak menggunakan air sungai secara langsung untuk kebutuhan sehari-hari ketika debit sedang rendah tanpa melalui proses pengolahan terlebih dahulu.
“Jadi kondisi penyusutan itu warga juga diminta menghindari penggunaan air sungai yang kualitasnya menurun tanpa pengolahan terlebih dahulu demi mencegah gangguan kesehatan,” tandas Bayu.
Memasuki puncak musim kemarau, kewaspadaan terhadap berbagai dampak lingkungan menjadi hal yang penting.
Selain menghemat penggunaan air, masyarakat diharapkan ikut menjaga kebersihan sungai serta berperan aktif mencegah kebakaran lingkungan agar dampak musim kemarau dapat diminimalkan. (opy)
