Ratusan Nelayan Bojonegara Kepung Kawasan PT Gandasari Energy, Pertanyakan Kompensasi dan Dugaan Dampak Reklamasi
Ratusan nelayan dari Karang Kepuh, Bojonegara, dan Mangkunegara menggelar aksi di PT Gandasari Energy. Mereka menuntut kejelasan kompensasi serta meminta evaluasi dugaan dampak reklamasi yang dinilai memengaruhi mata pencaharian nelayan pesisir.

HALLONEWS.ID – Ketegangan antara masyarakat pesisir dan aktivitas industri kembali mencuat di Kecamatan Bojonegara, Kabupaten Serang. Ratusan nelayan dari Desa Karang Kepuh, Desa Bojonegara, dan Desa Mangkunegara menggelar aksi demonstrasi besar-besaran di kawasan PT Gandasari Energy, Jumat (5/6/2026), menuntut kejelasan kompensasi serta meminta pemerintah mengusut dugaan dampak reklamasi yang dinilai mengancam keberlangsungan mata pencaharian nelayan tradisional.
Aksi dilakukan melalui jalur laut dengan menggunakan puluhan kapal nelayan yang bergerak menuju kawasan perusahaan. Setibanya di lokasi, massa turun ke darat dan menggelar orasi sambil membentangkan berbagai spanduk berisi tuntutan terkait kompensasi, transparansi perizinan reklamasi, hingga perlindungan terhadap ruang tangkap nelayan.
Dalam orasinya, Mahdum, tokoh nelayan yang ikut memimpin aksi, mengaku hasil tangkapan ikan para nelayan mengalami penurunan sejak adanya aktivitas pembangunan dan reklamasi di kawasan pesisir Bojonegara. Menurutnya, perubahan kontur perairan, meningkatnya aktivitas kapal industri, serta berkurangnya area tangkap diduga memengaruhi keberadaan ikan di wilayah tangkapan nelayan.
“Kami tidak menolak pembangunan dan investasi. Tetapi jangan sampai pembangunan dilakukan dengan mengorbankan nelayan yang sudah puluhan tahun menggantungkan hidup dari laut ini. Kami hanya meminta kejelasan dan keadilan,” tegas Mahdum.
Selain menuntut realisasi kompensasi yang dinilai belum jelas, massa juga mendesak pemerintah daerah, instansi terkait, serta aparat penegak hukum untuk melakukan peninjauan lapangan dan membuka secara transparan dokumen perizinan maupun kajian lingkungan yang menjadi dasar aktivitas reklamasi di kawasan tersebut.
Kekecewaan nelayan semakin memuncak karena hingga aksi berlangsung tidak ada perwakilan manajemen PT Gandasari Energy yang menemui massa untuk memberikan penjelasan secara langsung. Kondisi tersebut dinilai semakin memperlebar jarak komunikasi antara perusahaan dan masyarakat pesisir.
Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Serang, Sabihis, yang turut hadir dalam aksi tersebut menilai persoalan yang terjadi tidak terlepas dari minimnya komunikasi antara perusahaan dan masyarakat nelayan.
Menurutnya, para nelayan selama ini mengalami kesulitan untuk berkoordinasi dan menyampaikan aspirasi terkait kompensasi maupun dampak aktivitas reklamasi yang mereka rasakan di lapangan.
“Kami melihat persoalan ini muncul karena komunikasi yang tidak berjalan baik. Nelayan merasa kesulitan untuk berkoordinasi dan menyampaikan aspirasi mereka. Bahkan berkembang penilaian di kalangan nelayan bahwa perusahaan terkesan arogan dan kurang menghargai keberadaan serta privasi nelayan yang selama ini menggantungkan hidup dari laut,” kata Sabihis kepada HalloNews.id
Sabihis menegaskan bahwa nelayan pada dasarnya tidak menolak investasi maupun pembangunan industri di wilayah Bojonegara. Namun menurutnya, perusahaan juga harus menghormati hak-hak masyarakat pesisir serta membuka ruang dialog yang lebih luas dan transparan.
“Kalau komunikasi dibangun dengan baik, saya yakin persoalan ini bisa diselesaikan melalui dialog. Jangan sampai nelayan merasa diabaikan. Mereka hanya meminta didengar dan diberikan kepastian terkait masa depan penghidupan mereka,” ujarnya.
Ia meminta PT Gandasari Energy, Pemerintah Kabupaten Serang, Pemerintah Provinsi Banten, serta instansi teknis terkait segera memfasilitasi pertemuan resmi antara perusahaan dan nelayan guna membahas persoalan kompensasi, dampak lingkungan, serta berbagai tuntutan masyarakat pesisir.
Menurut Sabihis, apabila tidak ada respons maupun langkah konkret dari pihak perusahaan, potensi eskalasi aksi sangat mungkin terjadi. Bahkan, para nelayan mengaku siap mengerahkan massa yang lebih besar pada aksi berikutnya.
Sejumlah koordinator lapangan menyebut ribuan nelayan dari berbagai wilayah pesisir Kabupaten Serang siap bergabung apabila tuntutan yang disampaikan tidak mendapat perhatian serius dari pihak perusahaan maupun pemerintah.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak PT Gandasari Energy belum memberikan keterangan resmi terkait tuntutan kompensasi, dugaan dampak reklamasi, maupun aksi demonstrasi yang dilakukan para nelayan. Upaya konfirmasi yang dilakukan wartawan kepada pihak perusahaan juga belum memperoleh jawaban.
Aksi berlangsung dalam pengawalan aparat kepolisian dan berakhir dalam keadaan tertib tanpa bentrokan. Namun demikian, tuntutan nelayan terkait kompensasi, keberlanjutan mata pencaharian, transparansi aktivitas reklamasi, serta ruang dialog dengan perusahaan masih menjadi persoalan yang menunggu penyelesaian dari seluruh pihak terkait. (esa)
