AHY Tawarkan Giant Sea Wall dan Infrastruktur Tahan Iklim ke Dunia,

Menko AHY membuka peluang kerja sama global untuk proyek Giant Sea Wall dan infrastruktur tahan iklim. Pemerintahan Prabowo mengajak negara ASEAN-Eurasia berinvestasi di Indonesia.

Senin, 8 Juni 2026 - 7:07 WIB
AHY Tawarkan Giant Sea Wall dan Infrastruktur Tahan Iklim ke Dunia,
Menko AHY membeberkan tiga fokus utama pembangunan infrastruktur nasional. Foto: Kemenko Infrastruktur for Hallonews

HALLONEWS.ID – Pemerintah Indonesia mulai mengakselerasi langkah mencari mitra internasional untuk mendukung pembangunan infrastruktur berketahanan iklim, termasuk proyek Giant Sea Wall yang menjadi salah satu program strategis Presiden Prabowo Subianto.

Peluang kolaborasi tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) saat menghadiri sesi EAEU–ASEAN dalam St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF) 2026 di Rusia.

Dalam forum internasional itu, AHY menegaskan bahwa tantangan global seperti perubahan iklim, gejolak ekonomi, gangguan rantai pasok, hingga ketidakpastian geopolitik membutuhkan pendekatan pembangunan yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

Menurutnya, ketahanan sebuah negara tidak bisa lagi dibangun secara parsial, melainkan harus ditopang oleh infrastruktur yang kuat, ketahanan energi, pangan, air, serta kemitraan internasional yang saling menguntungkan.

“Ketahanan harus dirancang secara sadar melalui pembangunan infrastruktur yang kuat, ketahanan energi, ketahanan pangan dan air, serta kemitraan internasional yang dapat dipercaya,” ujar AHY.

Ia menegaskan, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia memilih memperkuat kerja sama global dibandingkan persaingan yang dapat memicu ketidakstabilan.

“Indonesia memilih membangun persahabatan dengan semua bangsa. Kita mengutamakan dialog, kerja sama, dan kemitraan yang memberikan manfaat bersama,” katanya.

Dalam paparannya, AHY membeberkan tiga fokus utama pembangunan infrastruktur nasional. Pertama, percepatan dekarbonisasi sektor transportasi untuk mendukung target Net Zero Emissions.

Kedua, penguatan konektivitas nasional melalui integrasi pelabuhan, jaringan logistik, dan sistem perkeretaapian yang lebih modern.

Ketiga, pembangunan infrastruktur yang mampu menghadapi dampak perubahan iklim, termasuk melalui proyek Giant Sea Wall di kawasan Pantai Utara Jawa.

AHY menjelaskan, ancaman banjir rob, abrasi pantai, kenaikan muka air laut, hingga penurunan permukaan tanah menjadi tantangan nyata yang membutuhkan solusi jangka panjang.

Menurutnya, Giant Sea Wall bukan sekadar proyek konstruksi, tetapi bagian dari strategi nasional untuk menjaga kawasan pesisir yang menjadi pusat aktivitas ekonomi Indonesia.

“Indonesia sedang mematangkan rencana pembangunan Giant Sea Wall sebagai bagian dari perlindungan kawasan pesisir, khususnya Pantai Utara Jawa. Ini bukan hanya perlindungan fisik, tetapi juga menjaga kehidupan masyarakat, mata pencaharian, dan keberlanjutan ekonomi,” ujarnya.

Kawasan Pantura sendiri memiliki peran strategis sebagai jalur perdagangan, industri, logistik, pelabuhan, hingga pusat mobilitas masyarakat yang menopang perekonomian nasional.

Karena itu, pemerintah membuka peluang investasi dan kerja sama internasional dalam berbagai aspek proyek tersebut, mulai dari teknologi rekayasa pesisir, sistem perlindungan pantai, penghalang laut, pemantauan lingkungan, hingga penelitian dan pengembangan bersama.

Tak hanya Giant Sea Wall, Indonesia juga menawarkan kolaborasi di sektor energi bersih, transportasi rendah karbon, logistik berbasis teknologi, serta pengembangan ekonomi maritim berkelanjutan.

AHY menegaskan, tantangan perubahan iklim dan dinamika global tidak dapat diselesaikan oleh satu negara saja. Dibutuhkan kerja sama nyata yang menghasilkan manfaat langsung bagi masyarakat.

“Kita harus bergerak dari dialog menuju aksi, dari konsep menuju proyek nyata, serta dari komitmen menuju hasil yang dirasakan masyarakat,” tegasnya.

Menutup pidatonya, AHY mengajak negara-negara ASEAN dan Eurasia memperkuat kemitraan jangka panjang untuk menghadapi tantangan global sekaligus menciptakan pembangunan yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

“Mari memilih kerja sama di atas fragmentasi, ketangguhan di atas kerentanan, dan kemitraan jangka panjang di atas keuntungan sesaat. Kita bangun bukan hanya ekonomi yang lebih kuat, tetapi juga kepercayaan yang lebih kokoh di antara bangsa-bangsa,” pungkasnya.

Melalui perluasan kemitraan dengan Rusia dan negara-negara Eurasia, pemerintah berharap pembangunan infrastruktur nasional dapat berlangsung lebih cepat, adaptif terhadap perubahan iklim, sekaligus memperkuat daya saing ekonomi Indonesia dalam jangka panjang. (agn)