Empat Isu Strategis Jadi Fokus Rakorkomwil III Apeksi, Kota Bogor Ditunjuk Tuan Rumah Urban Resilience
Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim mengungkap empat isu utama Rakorkomwil III Apeksi di Salatiga, mulai dari perubahan iklim hingga kebijakan fiskal. Kota Bogor juga ditunjuk menjadi tuan rumah agenda urban resilience pada September 2026

HALLONEWS.ID – Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, mengungkapkan empat isu strategis yang menjadi fokus pembahasan dalam Rapat Koordinasi Komisariat Wilayah (Rakorkomwil) III Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi) yang berlangsung di Kota Salatiga, Kamis (23/7/2026).
Empat isu tersebut meliputi penanganan perubahan iklim dan ketahanan perkotaan (urban resilience), keterlibatan generasi muda dalam pembangunan, penguatan peran Aparatur Sipil Negara (ASN), serta penguatan kebijakan fiskal daerah melalui sinergi dengan pemerintah pusat.
Dedie menjelaskan, pembahasan pertama menitikberatkan pada upaya pemerintah daerah dalam menghadapi dampak perubahan iklim sekaligus memperkuat ketahanan kota agar lebih siap menghadapi berbagai tantangan lingkungan.
“Bagaimana kita mencoba untuk menyelesaikan permasalahan dan juga mencarikan solusi untuk climate change mengenai perubahan cuaca dan urban resilience,” ujar Dedie.
Selain isu lingkungan, Rakorkomwil III Apeksi juga menyoroti pentingnya peran generasi muda dalam pembangunan kota. Menurutnya, pemuda merupakan motor penggerak inovasi yang akan menentukan arah pembangunan perkotaan di masa depan.
“Kemudian yang kedua, kita juga mengajak peran pemuda di dalam membangun perkotaan,” katanya.
Pembahasan berikutnya berkaitan dengan penguatan kapasitas ASN sebagai pilar utama birokrasi yang berperan dalam mendukung pembangunan daerah.
“Bagaimana ASN sebagai salah satu tiang kokoh pembangunan perkotaan dari sisi birokrasi juga bisa berperan penuh dalam pembangunan perkotaan,” jelas Dedie.
Sementara itu, isu keempat membahas pentingnya memperkuat kebijakan fiskal daerah melalui komitmen pemerintah daerah dan kolaborasi yang erat dengan pemerintah pusat agar pembangunan dapat berjalan lebih optimal dan manfaatnya dirasakan masyarakat.
“Tentu bagaimana dengan kebijakan fiskal di masing-masing daerah itu dapat diperkuat melalui berbagai komitmen dari pemerintah daerah dan juga kolaborasi sinergi dengan pemerintah pusat, sehingga semaksimal mungkin pembangunan itu dapat dirasakan oleh masyarakat,” tuturnya.
Dalam forum tersebut, Kota Bogor juga mendapat kepercayaan menjadi tuan rumah agenda pembahasan urban resilience dan climate change yang dijadwalkan berlangsung pada September 2026.
Dedie menyambut penunjukan tersebut sebagai peluang bagi Kota Bogor untuk menunjukkan komitmennya dalam membangun kota yang tangguh terhadap perubahan iklim.
“Ada hal yang cukup menarik dalam kegiatan ini, Kota Bogor ditunjuk sebagai tuan rumah untuk urban resilience dan juga climate change di Bulan September. Semoga kita bisa mempersiapkan dengan baik,” ungkapnya.
Untuk memastikan kesiapan penyelenggaraan agenda tersebut, Pemerintah Kota Bogor akan melakukan koordinasi lintas perangkat daerah, termasuk Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan instansi terkait lainnya.
“Nanti akan kita koordinasikan dengan Dinas LH dan juga dinas lainnya,” tutup Dedie Rachim. (opy)
