Dampak Dolar Rp18.063 Mulai Terasa di Tingkat Bawah, Pedagang dan Pabrik di Bekasi Terpukul
Melemahnya rupiah membuat harga barang elektronik menjadi makin mahal. Pedagang Pasar Cikarang, Bekasi, mengaku omzet mereka turun hingga 50 persen, sementara industri mulai melakukan efisiensi.

HALLONEWS.ID – Menguatnya dolar Amerika Serikat yang membuat nilai tukar rupiah tertekan mulai dirasakan langsung oleh pelaku usaha di Bekasi. Tidak hanya sektor industri, pedagang elektronik di Pasar Cikarang kini ikut merasakan dampaknya.
Harga berbagai produk elektronik merangkak naik dalam beberapa pekan terakhir. Akibatnya, minat belanja masyarakat menurun dan omzet para pedagang pun tergerus hingga separuh dari kondisi normal.
Pantauan di sentra elektronik Pasar Cikarang, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, menunjukkan suasana yang jauh lebih lengang dibandingkan hari-hari biasa. Sejumlah pemilik toko tampak menunggu pembeli yang datang hanya sesekali.
Oman (49), salah satu pedagang elektronik, mengaku hampir seluruh barang dagangannya mengalami kenaikan harga. Mulai dari televisi, kulkas, mesin cuci hingga peralatan elektronik rumah tangga lainnya kini dijual lebih mahal dibandingkan sebelumnya.
“TV atau kulkas yang sebelumnya dijual sekitar Rp1,5 juta sekarang sudah naik menjadi sekitar Rp1,65 juta,” kata Oman, Selasa (9/6/2026).
Menurut dia, kenaikan harga tidak bisa dihindari karena distributor juga menyesuaikan biaya pengadaan barang. Banyak produk elektronik masih bergantung pada komponen impor sehingga sangat sensitif terhadap pergerakan kurs dolar.
Namun di saat harga naik, daya beli masyarakat justru melemah. Banyak konsumen memilih menunda pembelian barang elektronik karena lebih fokus memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.
Situasi tersebut membuat para pedagang berada dalam posisi sulit. Oman mengaku omzet tokonya turun sekitar 50 persen dibandingkan kondisi normal.
“Konsumen semakin sedikit, sementara harga barang terus naik. Ini cukup berat bagi kami yang bergantung pada penjualan harian,” ujarnya.
Untuk mempertahankan usaha, sebagian pedagang memilih memangkas keuntungan. Mereka berusaha menjaga harga tetap kompetitif meski margin yang diperoleh semakin tipis.
Harapan para pedagang kini tertuju pada stabilitas ekonomi dan penguatan kembali nilai tukar rupiah agar harga barang bisa terkendali dan masyarakat kembali berbelanja.
Industri Bekasi Mulai Tertekan
Dampak pelemahan rupiah ternyata tidak hanya dirasakan sektor perdagangan. Dunia industri di Kota Bekasi juga mulai menghadapi tekanan akibat melonjaknya biaya bahan baku impor.
Nilai tukar rupiah yang sempat menembus level Rp18.063 per dolar AS membuat biaya produksi sejumlah perusahaan meningkat tajam. Kondisi ini diperparah oleh ketidakpastian ekonomi global dan konflik geopolitik yang masih berlangsung di Timur Tengah.
Ketua Apindo Kota Bekasi Farid Elhakamy mengatakan hingga kini belum ada perusahaan yang secara resmi menutup operasional akibat tekanan kurs. Namun, sejumlah perusahaan mulai melakukan langkah efisiensi untuk menjaga keberlangsungan usaha.
Salah satu langkah yang diambil adalah mengurangi tenaga kerja pada sektor-sektor penunjang agar aktivitas produksi utama tetap berjalan.
“Perusahaan berusaha menjaga proses produksi tetap berlangsung. Karena itu efisiensi dilakukan di beberapa bagian yang tidak berhubungan langsung dengan produksi,” kata Farid.
Menurutnya, ketergantungan industri terhadap bahan baku impor membuat pelemahan rupiah menjadi ancaman serius bagi dunia usaha. Jika kondisi berlangsung lama, tekanan terhadap sektor industri berpotensi semakin besar.
Para pelaku usaha berharap pemerintah mampu menjaga stabilitas ekonomi nasional dan nilai tukar rupiah agar sektor perdagangan maupun industri tidak semakin terpuruk. (dul)
