Tata Kelola Dapur Profesional Dinilai Menentukan Keberhasilan Program MBG

HALLONEWS.ID – Keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya bergantung pada ketersediaan bahan pangan, tetapi juga ditentukan oleh sistem pengelolaan dapur yang baik dan profesional. Hal tersebut disampaikan Guru Besar Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, Hardinsyah, saat membahas berbagai aspek penting dalam pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, dapur MBG merupakan elemen...
Jumat, 12 Juni 2026 - 15:00 WIB
Tata Kelola Dapur Profesional Dinilai Menentukan Keberhasilan Program MBG
makan bergizi gratis tersaji lewat dapur SPPG. (Hallonews/yopy)

HALLONEWS.ID – Keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya bergantung pada ketersediaan bahan pangan, tetapi juga ditentukan oleh sistem pengelolaan dapur yang baik dan profesional.

Hal tersebut disampaikan Guru Besar Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, Hardinsyah, saat membahas berbagai aspek penting dalam pelaksanaan program tersebut.

Menurutnya, dapur MBG merupakan elemen strategis yang berperan langsung dalam memastikan makanan yang diterima peserta didik memiliki kualitas gizi yang baik, aman dikonsumsi, dan disajikan sesuai standar yang telah ditetapkan.

Ia menjelaskan bahwa pengelolaan dapur harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari perencanaan menu bergizi, pengadaan bahan baku, penyimpanan, pengolahan, hingga distribusi makanan kepada penerima manfaat.

Setiap tahapan perlu diawasi secara ketat agar mutu dan keamanan pangan tetap terjaga.

Selain proses pengolahan makanan, aspek pendukung lainnya juga perlu mendapat perhatian.

Di antaranya penentuan lokasi dan mitra dapur, desain fasilitas yang memenuhi standar kebersihan dan sanitasi, penerapan kesehatan dan keselamatan kerja, serta sistem pengelolaan limbah makanan yang efektif dan ramah lingkungan.

Prof Hardinsyah menilai keberadaan sumber daya manusia yang kompeten menjadi faktor penting dalam mendukung operasional dapur.

Karena itu, seluruh petugas dan mitra yang terlibat perlu mendapatkan pelatihan yang memadai agar mampu menjalankan tugas sesuai prosedur dan standar yang berlaku.

Ia juga menekankan pentingnya penerapan tata kelola yang transparan dan akuntabel. Menurutnya, program MBG memerlukan standar operasional prosedur yang jelas, pengawasan berlapis, serta mekanisme audit yang dilakukan secara berkala untuk memastikan seluruh proses berjalan sesuai ketentuan.

“Keterlibatan masyarakat dinilai dapat memperkuat pengawasan terhadap program. Orang tua siswa, tokoh masyarakat, dan pihak lain yang telah mendapatkan pembekalan dapat berperan dalam memantau pelaksanaan MBG sehingga kualitas layanan tetap terjaga,” kata Prof Hardinsyah dikutip wartawan media ini Jumat (12/6/2026).

Selain fokus pada aspek pengelolaan, Prof Hardinsyah mendorong pemanfaatan bahan pangan lokal dalam penyediaan menu MBG.

Langkah tersebut dinilai mampu mendukung ketahanan pangan sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi petani dan pelaku usaha di daerah.

Dalam pelaksanaan program, ia juga menilai pentingnya pengumpulan data dasar terkait kondisi gizi dan kesehatan penerima manfaat, tingkat partisipasi siswa dan guru, serta potensi ekonomi dan sumber daya pangan di masing-masing wilayah.

Data tersebut dapat menjadi dasar dalam menyusun strategi pelaksanaan yang lebih tepat sasaran.

Lebih lanjut, edukasi gizi dan pangan kepada masyarakat perlu dilakukan secara berkelanjutan.

“Upaya tersebut dapat diperkuat dengan penerapan konsep ekonomi sirkular agar limbah makanan yang dihasilkan memiliki nilai tambah dan tidak menjadi beban lingkungan,” tegasnya.

Ia berharap sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, petani, pelaku usaha, satuan pelayanan pemenuhan gizi, dan masyarakat dapat terus diperkuat sehingga Program Makan Bergizi Gratis mampu berjalan secara aman, efektif, dan berkelanjutan dalam mendukung peningkatan kualitas gizi masyarakat Indonesia. (opy)