Dosen IPB: Dampak Tambang Nikel di Pesisir Perlu Dikelola Ketat untuk Lindungi Ekosistem dan Masyarakat

HALLONEWS.ID – Aktivitas pertambangan nikel yang terus berkembang di wilayah pesisir, termasuk kawasan Teluk Buli di Kabupaten Halmahera Timur, memerlukan pengelolaan yang lebih hati-hati guna meminimalkan dampak terhadap lingkungan dan masyarakat.
Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Dr Meutia Ismet, menjelaskan bahwa kegiatan pertambangan di kawasan pesisir berpotensi menimbulkan gangguan terhadap ekosistem laut, kesehatan masyarakat, hingga keberlanjutan ekonomi masyarakat pesisir dalam jangka panjang.
Menurutnya, salah satu dampak yang paling mudah terlihat adalah meningkatnya kekeruhan dan perubahan warna air laut akibat masuknya sedimen dari daratan.
Kondisi tersebut umumnya terjadi karena pembukaan lahan tambang membuat lapisan tanah permukaan menjadi lebih rentan tergerus air hujan dan terbawa ke wilayah pesisir.
“Masuknya material padatan tersuspensi dalam jumlah besar dapat menurunkan kualitas perairan. Kekeruhan yang meningkat akan menghambat penetrasi cahaya matahari ke kolom air sehingga mengganggu proses fotosintesis organisme laut dan dapat menurunkan kadar oksigen terlarut akibat meningkatnya bahan organik yang mengalami dekomposisi,” ujarnya dikutip wartawan media ini Jumat (12/6/2026).
Dr Meutia menambahkan bahwa sedimentasi yang terus meningkat juga dapat mengancam keberlangsungan ekosistem terumbu karang.
Endapan sedimen yang menutupi permukaan karang akan mengurangi intensitas cahaya yang dibutuhkan alga simbion untuk berfotosintesis.
Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat menyebabkan stres pada terumbu karang yang berujung pada pemutihan karang (coral bleaching) hingga kematian.
Kerusakan terumbu karang selanjutnya dapat berdampak luas terhadap berbagai biota laut yang bergantung pada ekosistem tersebut sebagai habitat, lokasi mencari makan, maupun tempat berkembang biak.
Tidak hanya terumbu karang, ekosistem lamun dan mangrove yang memiliki fungsi penting dalam menjaga keseimbangan wilayah pesisir juga berpotensi mengalami tekanan akibat perubahan kualitas lingkungan perairan.
Selain persoalan sedimentasi, aktivitas pertambangan nikel juga berisiko meningkatkan kandungan logam berat seperti nikel, besi, mangan, dan kadmium di lingkungan perairan.
Logam-logam tersebut dapat terakumulasi dalam tubuh organisme laut dan mengalami biomagnifikasi sepanjang rantai makanan.
“Apabila masyarakat pesisir mengonsumsi hasil tangkapan dari perairan yang telah terkontaminasi dalam jangka panjang, risiko gangguan kesehatan kronis dapat meningkat, mulai dari penyakit kulit, gangguan saraf, penurunan fungsi ginjal, hingga peningkatan risiko kanker,” jelasnya.
Terkait kondisi di Teluk Buli, Halmahera Timur, Dr Meutia menekankan pentingnya pemantauan kualitas air, tingkat sedimentasi, serta kandungan logam berat secara berkala untuk memastikan dampak aktivitas pertambangan terhadap lingkungan perairan dapat terukur dengan baik.
Ia juga menilai perlu adanya evaluasi pelaksanaan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal), penguatan sistem pengendalian sedimentasi, revegetasi lahan terbuka pascatambang, serta perlindungan bagi masyarakat terdampak melalui dukungan ekonomi, layanan kesehatan, dan penyediaan akses air bersih.
Menurutnya, upaya pemulihan lingkungan harus dilakukan secara terpadu dari hulu hingga hilir dengan mengatasi sumber permasalahan di daratan sehingga manfaatnya dapat dirasakan baik oleh ekosistem maupun masyarakat pesisir.
“Pemulihan lingkungan harus dilakukan secara menyeluruh agar keberlanjutan ekosistem pesisir dan kesejahteraan masyarakat dapat tetap terjaga,” tutupnya. (opy)
