Dosen IPB University Ungkap Penyebab Gelombang Panas Ekstrem di Eropa, Bukan Semata Akibat Perubahan Iklim

Dosen IPB University menjelaskan gelombang panas ekstrem di Eropa dipicu interaksi gelombang Rossby, pemanasan daratan, dan fenomena Omega Block. Indonesia juga berpotensi mengalami peningkatan suhu ekstrem dengan karakteristik berbeda.

Selasa, 7 Juli 2026 - 13:00 WIB
Dosen IPB University Ungkap Penyebab Gelombang Panas Ekstrem di Eropa, Bukan Semata Akibat Perubahan Iklim
Cuaca ekstrim melanda dunia. Pakar IPB ingatkan hal penting. (Hallonews/Humas IPB)

HALLONEWS.ID – Gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah negara di Eropa dalam beberapa waktu terakhir menarik perhatian dunia.

Suhu yang memecahkan rekor di berbagai wilayah memunculkan pertanyaan mengenai penyebab utama fenomena tersebut serta hubungannya dengan perubahan iklim global.

Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University, Sonni Setiawan, S.Si., M.Si., menjelaskan bahwa gelombang panas di Eropa tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal. Fenomena tersebut merupakan hasil interaksi berbagai proses atmosfer yang terjadi secara bersamaan.

Menurut Sonni, salah satu faktor utama adalah pemanasan daratan secara luas selama musim panas yang diperkuat oleh perambatan gelombang Rossby di atmosfer lintang menengah, kawasan tempat sebagian besar wilayah Eropa berada.

“Fenomena ini merupakan hasil interaksi antara pemanasan daratan yang luas pada musim panas dengan perambatan gelombang Rossby di atmosfer lintang menengah,” ujarnya Selasa (7/7/2026).

Ia menjelaskan, gelombang Rossby merupakan gangguan atmosfer berskala besar yang memengaruhi pola tekanan udara, arah angin, serta distribusi suhu di wilayah lintang menengah.

Gelombang tersebut memiliki panjang sekitar 4.000 hingga 6.000 kilometer dan terbentuk ketika angin baratan melintasi pegunungan besar seperti Pegunungan Rocky di Amerika Utara maupun Pegunungan Andes di Amerika Selatan.

Saat musim panas di belahan bumi utara, posisi matahari menyebabkan daratan menerima pemanasan maksimum.

Karena daratan memiliki kapasitas menyimpan panas lebih rendah dibandingkan lautan, suhu udara di atas permukaan daratan meningkat lebih cepat. Kondisi ini memperkuat gangguan suhu yang dibawa gelombang Rossby hingga memicu terjadinya gelombang panas.

Sonni menambahkan, situasi tersebut semakin diperparah oleh melambatnya pergerakan gelombang Rossby pada musim panas.

Akibatnya, massa udara panas bertahan lebih lama di suatu wilayah. Selain itu, fenomena Omega Block turut berperan dalam memperpanjang durasi suhu ekstrem.

Pola tekanan tinggi ini menjebak udara panas sehingga kondisi gelombang panas dapat berlangsung selama beberapa hari bahkan lebih lama.

“Pada musim panas, gelombang Rossby bergerak lebih lambat sehingga medan suhu tinggi bertahan lebih lama pada satu wilayah. Ditambah adanya fenomena Omega Block, udara panas menjadi terperangkap sehingga gelombang panas berlangsung lebih lama,” jelasnya.

Terkait anggapan bahwa meningkatnya frekuensi gelombang panas merupakan bukti langsung perubahan iklim, Sonni menilai kesimpulan tersebut perlu didasarkan pada kajian ilmiah yang komprehensif.

Menurutnya, dinamika atmosfer alami tetap harus menjadi bagian penting dalam analisis sebelum mengaitkan suatu kejadian panas ekstrem dengan perubahan iklim.

Ia juga menjelaskan bahwa meski terjadi di Eropa, fenomena tersebut memiliki keterkaitan dengan sistem iklim global melalui mekanisme telekoneksi, yakni hubungan antarkawasan yang dipengaruhi oleh sirkulasi atmosfer berskala besar.

Salah satu contoh telekoneksi adalah hubungan antara Madden-Julian Oscillation (MJO) dengan sirkulasi atmosfer di wilayah ekstratropis, meskipun pengaruhnya tidak bersifat langsung.

Lebih lanjut, Sonni menyebut Indonesia juga berpotensi mengalami peningkatan kejadian suhu panas ekstrem pada masa mendatang. Namun, karakteristiknya berbeda dengan gelombang panas yang terjadi di Eropa.

Di Indonesia, peningkatan suhu lebih banyak dipengaruhi oleh perubahan penggunaan lahan serta fenomena urban heat island atau pulau panas perkotaan yang umum terjadi di kota-kota besar.

“Indonesia berpeluang mengalami peningkatan suhu ekstrem, tetapi tidak seperti di Eropa. Faktor yang lebih dominan adalah perubahan fungsi lahan sehingga wilayah yang paling rentan adalah kota-kota besar,” katanya.

Sebagai langkah mitigasi dan adaptasi, Sonni mendorong pemerintah bersama masyarakat memperkuat upaya penghijauan melalui reboisasi, penanaman pohon, serta pengendalian alih fungsi lahan.

Menurutnya, langkah tersebut penting untuk menekan peningkatan suhu permukaan sekaligus meningkatkan ketahanan lingkungan terhadap dampak perubahan iklim.

“Walaupun Indonesia tidak mengalami gelombang panas seperti di Eropa, adaptasi tetap perlu dilakukan melalui reboisasi, penanaman pohon, dan pengaturan alih fungsi lahan agar dampak peningkatan suhu dapat diminimalkan,” pungkasnya. (opy)