Karhutla hingga Kekeringan Kepung Sejumlah Daerah, BNPB Minta Warga Siaga
BNPB mencatat karhutla dan kekeringan masih mendominasi bencana di sejumlah daerah. Ribuan warga terdampak dan distribusi air bersih terus dilakukan.

HALLONEWS.ID – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bencana hidrometeorologi masih mendominasi berbagai wilayah di Indonesia dalam periode pemantauan 16 Juli 2026 pukul 07.00 WIB hingga 17 Juli 2026 pukul 07.00 WIB.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kekeringan, hingga cuaca ekstrem menjadi peristiwa yang paling banyak ditangani pemerintah daerah.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan, pemerintah bersama BPBD terus melakukan penanganan di sejumlah lokasi terdampak, mulai dari pemadaman karhutla hingga distribusi air bersih kepada warga yang mengalami krisis air.
Di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, cuaca ekstrem yang terjadi pada Rabu (15/7) menyebabkan tujuh rumah di Desa Banjaragung, Kecamatan Bareng, mengalami kerusakan ringan, Hingga Kamis (16/7), BPBD setempat masih melakukan penanganan dan pendataan dampak bencana.
Sementara itu, karhutla di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, berhasil dipadamkan setelah membakar lahan seluas 25 hektare di Kelurahan Labuan Bajo, Kecamatan Komodo.
“Api pertama kali terdeteksi pada Rabu (15/7) siang dan berhasil dipadamkan sehari kemudian. BNPB memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut,” kata Abdul Muhari dalam keterangannya, Jumat (17/7/2026).
Karhutla juga melanda Kota Bontang, Kalimantan Timur. Kebakaran yang menghanguskan lahan seluas 4,37 hektare di Kelurahan Satimpo, Kecamatan Bontang Selatan, berhasil dipadamkan petugas gabungan pada Kamis (16/7).
Hingga kini, penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan. Selain karhutla, kekeringan masih menjadi persoalan serius di sejumlah daerah, terutama di Jawa Tengah dan Jawa Barat.
Di Kabupaten Pemalang, empat kecamatan dilaporkan mengalami kekeringan yang berdampak pada 4.397 kepala keluarga (KK). Di Kabupaten Sukoharjo, sebanyak 616 KK atau 967 jiwa di tiga kecamatan membutuhkan bantuan air bersih.
“BPBD setempat telah menyalurkan sedikitnya 25 ribu liter air bersih untuk memenuhi kebutuhan warga,” ungkapnya.
Kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Klaten. Empat desa di Kecamatan Kemalang, yakni Kendalsari, Tegalmulyo, Tlogowatu, dan Sidorejo, mengalami krisis air yang berdampak pada 3.272 KK atau sekitar 10.685 jiwa.
Sejak pertengahan Juni hingga 16 Juli 2026, BPBD telah mendistribusikan lebih dari 1,3 juta liter air bersih ke wilayah tersebut. Di Kabupaten Purbalingga, kekeringan melanda lima desa di Kecamatan Karangreja dan Kejobong.
Sebanyak 1.758 warga terdampak, sementara BPBD terus menyalurkan bantuan air bersih, termasuk 30 ribu liter yang dikirim ke Desa Pandansari pada Kamis (16/7).
Sementara itu, di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, kekeringan meluas hingga 28 desa di 15 kecamatan. BNPB mencatat sebanyak 2.016 KK atau 39.768 jiwa membutuhkan pasokan air bersih.
Pada Kamis (16/7), BPBD Kabupaten Bogor mendistribusikan 30 ribu liter air ke Kecamatan Leuwisadeng, Jonggol, Dramaga, dan Tanjungsari.
Abdul Muhari mengingatkan ancaman karhutla dan kekeringan masih berpotensi meningkat seiring musim kemarau. Karena itu, BNPB meminta pemerintah daerah meningkatkan kesiapsiagaan, terutama dalam upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan.
BNPB mengimbau masyarakat menggunakan air secara bijak serta memanfaatkan air hujan sebagai cadangan apabila terjadi hujan di musim kemarau. Langkah pencegahan dan kesiapsiagaan kunci mengurangi dampak bencana yang dipicu kondisi cuaca ekstrem. (dul)
