AHY Percepat Proyek Giant Sea Wall Sepanjang 575 KM di Pantura

Menko AHY menyatakan akan mempercepat realisasi proyek tanggul raksasa di Pantura. Foto: Agung Nugroho for Hallonews

Senin, 4 Mei 2026 - 22:30 WIB
AHY Percepat Proyek Giant Sea Wall Sepanjang 575 KM di Pantura
Menko AHY menyatakan akan mempercepat realisasi proyek tanggul raksasa di Pantura. Foto: Agung Nugroho for Hallonews

HALLONEWS.ID – Pemerintah mulai mempercepat realisasi proyek tanggul laut raksasa atau giant sea wall. (GSW) di sepanjang pesisir Pantai Utara (Pantura) Jawa. Proyek ini dirancang sebagai solusi jangka panjang untuk mengatasi banjir rob, penurunan muka tanah, hingga ancaman kenaikan permukaan air laut.

Pembangunan GSW direncanakan membentang sepanjang 575 kilometer, melintasi lima provinsi dari Banten hingga Jawa Timur. Proyek ini menjadi salah satu upaya strategis pemerintah dalam melindungi kawasan pesisir yang selama ini rentan terhadap bencana lingkungan.

Sebagai langkah awal, Menteri Koordinasi Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK), Agus Harimurti Yudhoyono menggelar rapat koordinasi lintas kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah dalam kick-off meeting Infrastruktur Perlindungan Pesisir Pantura Jawa Terpadu, Senin (4/5/2026).

Dalam pertemuan tersebut, sejumlah pejabat turut hadir, di antaranya Kepala Badan Otorita Pengelola Pantura Jawa (BOPPJ) Didit Herdiawan Ashaf, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria, serta perwakilan kementerian, lembaga, dan kepala daerah.

AHY menegaskan bahwa pertemuan ini menjadi titik awal untuk menyelaraskan langkah seluruh pemangku kepentingan, baik di tingkat pusat maupun daerah, termasuk masyarakat yang akan terdampak langsung oleh proyek tersebut.

AHY2
Menko AHY menyatakan akan mempercepat realisasi proyek tanggul raksasa di Pantura.
Foto: Agung Nugroho for Hallonews

“Ini adalah kick-off meeting untuk mengoordinasikan berbagai pihak, mulai dari kementerian, lembaga, pemerintah daerah, hingga komunitas yang terdampak,” ujar AHY.

Ia menjelaskan, pembangunan tanggul laut raksasa menjadi kebutuhan mendesak karena kawasan Pantura menghadapi tekanan ganda, yakni penurunan muka tanah (land subsidence) dan kenaikan permukaan air laut (sea level rise).

Menurutnya, laju penurunan tanah di wilayah Pantura mencapai 1 hingga 20 sentimeter per tahun, dengan kondisi paling parah terjadi di Jakarta dan Semarang. Sementara itu, kenaikan permukaan air laut akibat perubahan iklim berkisar antara 0,8 hingga 1,2 sentimeter per tahun.

Jika tidak segera ditangani, fenomena ini berpotensi memperparah banjir rob yang dapat merusak infrastruktur, menghancurkan permukiman, hingga memicu krisis sosial dan ekonomi di wilayah pesisir.

Proyeksi hingga tahun 2050 juga menunjukkan potensi genangan yang semakin meluas, terutama di wilayah Jakarta dan Semarang yang dinilai paling rentan terdampak.

Selain banjir rob, masyarakat pesisir juga menghadapi ancaman lain seperti gelombang pasang ekstrem dan krisis air bersih. Kondisi ini, menurut AHY, sudah mulai dirasakan dan perlu penanganan cepat serta terintegrasi.

Dari sisi ekonomi, kawasan Pantura memiliki peran strategis dengan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional mencapai 27,53 persen atau setara sekitar US$368,37 miliar.

“Kalau kita ingin menjaga pertumbuhan ekonomi tetap positif, maka kawasan Pantura harus ditangani secara serius. Jangan sampai kerusakan lingkungan semakin parah,” tegasnya.

Pemerintah menargetkan proyek ini tidak hanya menjadi solusi perlindungan lingkungan, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi kawasan pesisir dalam jangka panjang. (agn)