Bakom RI Gandeng INMF, Effendi Ghazali Soroti Strategi Rebut Hati Publik

Pakar komunikasi politik Effendi Ghazali menilai langkah Bakom RI menggandeng INMF sebagai strategi memperluas komunikasi pemerintah lewat media baru dan komunitas digital.

Sabtu, 9 Mei 2026 - 14:45 WIB
Bakom RI Gandeng INMF, Effendi Ghazali Soroti Strategi Rebut Hati Publik
Pake Komunikasi Politik, Efendi Ghazali menyatakan pemerintah saat ini memang dituntut mampu menjangkau berbagai jenis media, termasuk media baru. Foto: Instagram @efendighazali for Hallonews

HALLONEWS.ID – Pakar komunikasi politik, Effendi Ghazali, menilai langkah Badan Komunikasi Republik Indonesia (Bakom RI) merekrut Indonesia New Media Forum (INMF) sebagai hal yang wajar dalam upaya memperluas jangkauan komunikasi pemerintah kepada publik.

Menurut Effendi, pemerintah saat ini memang dituntut mampu menjangkau berbagai jenis media, termasuk media baru dan media berbasis komunitas, agar pesan kebijakan dapat diterima lebih luas oleh masyarakat.

“Pemerintah merekrut INMF sah-sah saja untuk merangkul seluas-luasnya media dan berharap apa yang mereka sampaikan bisa didengar publik,” ujar Effendi saat dihubungi Hallonews di Jakarta, Sabtu (9/5/2026).

Meski demikian, Effendi mengaku kurang sepakat dengan istilah “Homeless Media”. Ia lebih memilih menggunakan istilah media baru atau media independen.

“Saya pribadi kurang setuju dengan istilah Homeless Media. Saya lebih setuju dengan istilah New Media atau Independent Media. Bagaimanapun juga, semakin terverifikasi sebuah media tentu semakin baik,” katanya.

Ia menjelaskan, lanskap media saat ini telah berubah drastis. Media arus utama yang sebelumnya berbasis cetak maupun televisi kini ikut masuk ke platform digital dan harus bersaing dengan media online serta media komunitas yang sejak awal lahir di ruang digital.

Menurutnya, pemerintah perlu menjangkau seluruh segmen media tersebut, terutama media komunitas yang dinilai memiliki kedekatan lebih kuat dengan publik.

“Kalau bicara media baru, sekarang basisnya komunitas. Bahkan pengaruhnya bisa lebih kuat dalam membangun keterlibatan publik,” ujarnya.

Effendi menilai langkah Bakom RI juga berkaitan dengan upaya pemerintah memperkecil jurang komunikasi antara pesan yang ingin disampaikan pemerintah dengan pemahaman masyarakat.

Ia menyebut masih terdapat kesenjangan besar antara informasi yang diproduksi pemerintah dengan persepsi publik terhadap program-program pemerintah.

“Sebagai komunikolog, kami melihat ada jurang komunikasi yang cukup besar antara apa yang ingin disampaikan pemerintah dengan yang diterima publik,” jelasnya.

Selain membangun pemahaman publik, Effendi menilai pendekatan melalui media komunitas juga dapat memperkuat citra politik pemerintah sekaligus meningkatkan partisipasi masyarakat terhadap program-program negara.

Namun, ia mengingatkan pendekatan terhadap media komunitas harus dilakukan dengan cara yang sesuai karakter komunitas itu sendiri.

“Buat mereka paham lebih dulu, tentu dengan gaya komunikasi komunitas,” tandasnya. (agn)