BMKG Sebut El Nino Bukan Sekadar Musim Kemarau, Ini Dampaknya
BMKG menjelaskan perbedaan El Nino dan musim kemarau biasa. Fenomena iklim ini diprediksi membuat Indonesia lebih kering pada 2026.

HALLONEWS.ID – Fenomena El Nino kembali menjadi perhatian pada 2026.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat bahwa El Nino berbeda dengan musim kemarau biasa yang terjadi setiap tahun di Indonesia.
BMKG bersama puluhan pusat iklim dunia saat ini terus memantau perkembangan El Nino Southern Oscillation (ENSO).
“Hasil pemantauan menunjukkan peluang kemunculan El Nino di Indonesia pada 2026 mencapai 70 hingga 90 persen dengan kategori lemah sampai moderat,” tulis BMKG, dikutip Hallonews, Minggu (17/5/2026).
Apa Itu El Nino?
El Nino merupakan anomali iklim global yang terjadi secara berkala setiap tiga hingga tujuh tahun sekali. Fenomena ini ditandai dengan meningkatnya suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur.
Istilah El Nino berasal dari bahasa Spanyol yang berarti “anak laki-laki”. Nama tersebut pertama kali digunakan nelayan Peru untuk menggambarkan arus laut hangat yang muncul menjelang Natal.
Pemanasan suhu laut itu kemudian memengaruhi pola cuaca di berbagai negara, termasuk Indonesia. Dampaknya paling terasa berupa penurunan curah hujan yang membuat kondisi menjadi lebih kering dari biasanya.
Berbeda dengan El Nino, musim kemarau merupakan siklus tahunan normal yang memang terjadi setiap tahun akibat pengaruh angin monsun Australia yang membawa udara kering ke Indonesia.
Perbedaan utama keduanya terletak pada intensitas dan dampaknya. Musim kemarau biasa tetap terjadi dalam pola normal, sedangkan El Nino dapat membuat musim kemarau berlangsung lebih panjang dan jauh lebih kering.
Sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim kemarau pada April hingga Juni 2026. Namun, kehadiran El Nino diprediksi memperparah kondisi kekeringan di sejumlah daerah.
BMKG mengingatkan El Nino dapat memicu berbagai dampak serius, mulai dari berkurangnya ketersediaan air bersih, meningkatnya polusi udara, hingga naiknya risiko kebakaran hutan dan lahan.
Fenomena ini juga berpotensi mengganggu sektor pertanian akibat ancaman gagal panen serta menurunkan produksi listrik tenaga air karena debit air yang menyusut.
Meski begitu, El Nino juga memiliki sisi positif. Cuaca yang lebih kering dinilai dapat membantu produksi garam, mendukung optimalisasi energi surya, serta mempercepat proyek infrastruktur karena minim gangguan hujan.
Menghadapi potensi kekeringan panjang, BMKG mengimbau masyarakat mulai melakukan langkah antisipasi sejak dini.
Beberapa di antaranya seperti menghemat penggunaan air, tidak membakar sampah atau lahan sembarangan, menyiapkan cadangan air, hingga memilih tanaman yang lebih tahan terhadap cuaca kering.
Masyarakat juga disarankan menjaga kesehatan dengan memperbanyak konsumsi air minum dan menggunakan masker saat kualitas udara memburuk akibat debu maupun asap kebakaran lahan. (dul)
