Dirut RRI Dorong Penguatan SDM untuk Hadapi Tantangan Era Disrupsi
Dirut RRI Hendrasmo dorong penguatan SDM dan fokus organisasi di tengah keterbatasan anggaran. Wacana merger RRI–TVRI dinilai bisa tingkatkan efisiensi dan kekuatan media publik.

HALLONEWS ID – Direktur Utama Radio Republik Indonesia, Hendrasmo, menegaskan pentingnya menjaga fokus organisasi di tengah keterbatasan anggaran. Hal ini disampaikan saat melantik belasan pejabat eselon II, III, dan IV di lingkungan RRI.
Menurut Hendrasmo, menjabat Vice President The Asia-Pacific Broadcasting Union (ABU), seluruh kepala satuan kerja harus tetap berpegang pada tujuan utama organisasi, yakni menjadikan RRI sebagai media yang tepercaya, relevan, berdampak, serta mampu menginspirasi nilai-nilai keindonesiaan.
“Di era disrupsi dengan banjir informasi, RRI harus hadir sebagai penerang di tengah maraknya disinformasi. Tetap relevan di tengah perubahan pola konsumsi media, serta memberi dampak nyata bagi bangsa,” ujarnya, Selasa (28/4/2026).
Perkuat Peran Media Publik
Hendrasmo menekankan, RRI memiliki peran strategis sebagai media negara yang turut mendukung pencapaian visi dan misi Prabowo Subianto. Oleh karena itu, penguatan sumber daya manusia (SDM) menjadi prioritas utama.
Ia menyebut, dari lebih dari 5.000 karyawan RRI, kurang dari separuh memiliki latar belakang penyiaran dan jurnalistik. Hingga kini, lebih dari 800 wartawan dan penyiar telah mengikuti uji kompetensi, dengan target lebih dari 1.000 personel tersertifikasi hingga akhir 2026.
Peningkatan kapasitas SDM dilakukan melalui Pusat Pengembangan Kompetensi dengan pendekatan corporate university, yang mencakup pelatihan administratif, media, hingga pembelajaran mandiri di tiap satuan kerja.
Selain penguatan SDM, Hendrasmo juga mengungkapkan sejumlah indikator kinerja birokrasi RRI menunjukkan tren positif, termasuk indeks reformasi birokrasi, profesionalisme, serta tata kelola kelembagaan dan keuangan.
Tunggu Arah Soal Merger RRI–TVRI
Terkait wacana penggabungan RRI dengan Televisi Republik Indonesia menjadi Radio Televisi Republik Indonesia (RT-RI), Hendrasmo menyatakan pihaknya masih menunggu arahan pemerintah dan DPR.
“Merger ini berpotensi meningkatkan efisiensi, terutama dalam belanja modal, teknologi, dan manajemen SDM. Kami berharap juga dapat memperkuat diseminasi informasi kepada publik,” jelasnya.
Ia menambahkan, RRI kini telah bertransformasi dengan mengembangkan jurnalisme multiplatform, tidak lagi hanya bergantung pada siaran radio.
Mengutip pemikiran Presiden Prabowo dalam buku *Paradoks Indonesia*, Hendrasmo menilai jika merger terealisasi, RT-RI berpotensi menjadi media negara yang lebih kuat dalam membangun kesadaran nasional.
“RT-RI bisa menjadi lembaga penyiaran publik yang powerful dalam memperkuat kesadaran kebangsaan,” pungkasnya. (agn)
