Harga Tiket Umrah Meroket, Travel Indonesia Menjerit, Jamaah Batalkan Keberangkatan
Kenaikan tiket umrah hingga Rp6,5 juta membuat ribuan jamaah membatalkan keberangkatan. Travel umrah mendesak pemerintah segera turun tangan mencari solusi.

HALLONEWS.ID – Kenaikan harga tiket pesawat umrah dalam beberapa pekan terakhir memicu keresahan besar di kalangan penyelenggara perjalanan ibadah dan calon jamaah di Indonesia.
Lonjakan tarif yang dinilai tidak wajar membuat banyak calon jamaah memilih menunda bahkan membatalkan keberangkatan ke Tanah Suci.
Sekretaris Jenderal Amphuri Zaky Zakaria Anshary mengungkapkan pertemuan antara 13 asosiasi travel umrah dan haji Indonesia bersama manajemen Garuda Indonesia pada 18 Mei 2026 belum menghasilkan solusi konkret bagi masyarakat maupun pelaku usaha travel.
Menurut Zaky, pembahasan dalam pertemuan tersebut lebih banyak berisi penjelasan maskapai terkait penyebab kenaikan harga tiket akibat membengkaknya biaya operasional penerbangan, termasuk harga avtur.
Di sisi lain, para pelaku usaha travel tetap menghadapi tekanan berat akibat melonjaknya biaya perjalanan umrah.
“Kondisi ini membuat masyarakat semakin terbebani. Banyak calon jamaah akhirnya memilih mundur karena tidak mampu menambah biaya perjalanan,” ujar Zaky kepada Hallonews.id, Rabu (20/5/2026).
Ia menjelaskan, kenaikan tiket penerbangan umrah saat ini cukup signifikan. Maskapai Lion Air disebut mengalami kenaikan tarif rata-rata Rp4 juta hingga Rp6,5 juta per kursi. Sementara Garuda Indonesia mengalami kenaikan sekitar Rp3,5 juta per tiket.
Dampak lonjakan harga mulai terasa di berbagai daerah. Ketua DPD Amphuri Sulawesi-Papua, Azhar, mengungkapkan mayoritas tiket yang telah dibeli jamaah justru dikembalikan atau dibatalkan.
Sementara itu, Ketua DPD Amphuri Bali-Nusa Tenggara, Zamroni, menyebut pihaknya telah membatalkan lebih dari 5.500 tiket akibat lonjakan harga tersebut.
“Fenomena ini memunculkan kekhawatiran besar di sektor perjalanan religi nasional,” kata Zaky.
Menurutnya, selama ini pasar umrah Indonesia dikenal sebagai salah satu sektor paling stabil dan konsisten bagi industri penerbangan. Tingkat keterisian kursi penerbangan umrah juga sangat tinggi dan relatif minim risiko.
“Bahkan banyak maskapai menjadikan penerbangan umrah sebagai salah satu sumber keuntungan tahunan. Namun kini pelaku usaha mempertanyakan mengapa justru sektor umrah yang kembali menjadi pihak paling terbebani saat terjadi tekanan ekonomi penerbangan,” jelasnya.
Situasi ini semakin menjadi sorotan karena harga tiket umrah dalam beberapa kasus disebut lebih mahal dibanding penerbangan jarak jauh menuju Eropa maupun Amerika Serikat.
Rute Jakarta menuju Jeddah atau Madinah bahkan disebut bisa melampaui harga penerbangan Jakarta menuju Paris, Roma hingga Amerika Serikat, meski jarak tempuhnya lebih pendek.
Kondisi tersebut memicu persepsi di masyarakat bahwa jamaah umrah menjadi pasar yang paling mudah dibebani kenaikan tarif.
Amphuri juga menyoroti perbedaan kenaikan tarif dengan negara lain.
Sejumlah maskapai Timur Tengah seperti Oman Air disebut hanya menaikkan harga sekitar Rp300 ribu hingga Rp800 ribu. Beberapa maskapai lain bahkan mengklaim tidak melakukan kenaikan signifikan.
Karena itu, para penyelenggara perjalanan umrah berharap pemerintah segera turun tangan mencari jalan keluar agar biaya perjalanan ibadah tidak semakin memberatkan masyarakat. (fer)
