Indonesia Desak PBB Usut Tuntas Kematian Prajurit TNI di Misi UNIFIL Lebanon

Indonesia mendesak PBB mengusut kematian Praka Rico Pramudia di Lebanon. Pemerintah menilai serangan terhadap pasukan perdamaian sebagai pelanggaran hukum internasional.

Sabtu, 25 April 2026 - 22:40 WIB
Indonesia Desak PBB Usut Tuntas Kematian Prajurit TNI di Misi UNIFIL Lebanon
Prajurit TNI Praka Rico Pramudia gugur saat menjalankan misi perdamaian PBB di Lebanon. Foto: UNIFIL for Hallonews

HALLONEWS.ID — Pemerintah Indonesia kembali mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk melakukan investigasi menyeluruh atas gugurnya Prajurit Kepala (Praka) Rico Pramudia, anggota pasukan perdamaian yang bertugas dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL).

Dalam keterangan resmi Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI yang diterima di Jakarta, Sabtu (26/4/2026), Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Vahd Nabyl Achmad Mulachela menyampaikan duka mendalam sekaligus penghormatan tertinggi kepada almarhum.

Pemerintah, kata Nabyl, juga tengah berkoordinasi intensif dengan pihak UNIFIL guna memastikan proses repatriasi jenazah dilakukan secepatnya dengan penuh penghormatan militer.

“Berbagai langkah medis telah diupayakan, namun akibat kondisi luka yang cukup berat, nyawa almarhum tidak dapat diselamatkan,” ujar Nabyl.

Dalam pernyataannya, Indonesia juga mengutuk keras serangan yang menyebabkan gugurnya prajurit TNI tersebut. Pemerintah menegaskan bahwa keselamatan personel penjaga perdamaian merupakan prinsip yang tidak bisa ditawar.

Serangan terhadap pasukan perdamaian, lanjutnya, merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.

“Indonesia mendesak PBB untuk melakukan investigasi yang menyeluruh, transparan, dan akuntabel guna mengungkap fakta serta memastikan pertanggungjawaban atas insiden ini,” tegasnya.

Gugurnya Praka Rico menambah daftar panjang korban dari Indonesia dalam misi perdamaian di Lebanon. Dalam kurun waktu satu bulan terakhir, Indonesia telah kehilangan empat prajurit TNI yang bertugas bersama UNIFIL.

Sebelumnya, Farizal Rhomadhond gugur akibat serangan artileri pada 29 Maret 2026—insiden yang sama yang menyebabkan Praka Rico mengalami luka berat.

Sehari berselang, pada 30 Maret, dua prajurit lainnya yakni Zulmi Aditya Iskandar dan Muhammad Nur Ikhwan juga dilaporkan gugur setelah konvoi yang mereka kawal diserang.

Dalam rangkaian serangan yang terjadi pada 29–30 Maret hingga 3 April tersebut, selain menelan korban jiwa, sedikitnya tujuh prajurit TNI lainnya dilaporkan mengalami luka-luka.

Eskalasi konflik di Lebanon tidak hanya berdampak pada Indonesia. Tercatat, Prancis juga kehilangan dua tentaranya yang bertugas dalam misi UNIFIL akibat serangan pada 18 April 2026.

Situasi ini semakin menegaskan bahwa risiko bagi pasukan penjaga perdamaian di kawasan konflik meningkat tajam, sekaligus memperkuat urgensi penegakan hukum internasional secara tegas dan konsisten. (ren)