KAI Bakal Tutup 235 Perlintasan Liar, 1.864 Titik Dinilai Berbahaya
KAI mencatat ada 1.864 perlintasan sebidang yang tak memenuhi standar keselamatan. Sebanyak 235 titik diprioritaskan untuk ditutup guna menekan risiko kecelakaan kereta.

HALLONEWS.ID – Upaya menekan angka kecelakaan kereta memasuki fase tegas. PT Kereta Api Indonesia mengungkap terdapat 1.864 perlintasan sebidang yang dinilai tidak memenuhi standar keselamatan, dengan ratusan titik kini diprioritaskan untuk segera ditutup.
Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, menegaskan langkah ini merupakan bagian dari penertiban besar-besaran demi mengurangi risiko kecelakaan di jalur rel. Ia menyebut, perlintasan yang tidak memenuhi syarat keselamatan tidak akan lagi ditoleransi.
“Yang tidak memenuhi persyaratan keselamatan, kami akan tutup,” kata Bobby di Stasiun Bekasi Timur, Selasa (5/5/206).
Dari hasil pemetaan yang telah dilakukan, KAI mengklasifikasikan seluruh titik berdasarkan tingkat kerawanan. Sebanyak 235 perlintasan masuk kategori prioritas dan akan ditindak dalam waktu dekat.
“Total ada 1.864 lokasi yang sudah kami identifikasi. Dari jumlah itu, 235 akan kami lakukan secepatnya,” ujarnya.
Menurut Bobby, penutupan bukan sekadar wacana. Sejumlah titik bahkan mulai ditangani di lapangan sebagai bagian dari implementasi kebijakan keselamatan yang didorong pemerintah.
Ia menambahkan, lebih dari 200 perlintasan sebidang dipastikan akan segera ditutup dalam tahap awal, seiring upaya memperkuat sistem keselamatan transportasi perkeretaapian nasional.
Sementara itu, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menyebutkan tragedi kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur menjadi peringatan keras bagi pemerintah untuk segera membenahi sistem keselamatan transportasi.
Wakil Ketua DPR RI Saan Mustofa menegaskan bahwa keselamatan pengguna harus menjadi prioritas utama dalam sistem transportasi publik. Hal itu mencakup tidak hanya moda transportasi, tetapi juga infrastruktur pendukungnya.
“Transportasi publik itu pertama yang namanya keselamatan para pengguna menjadi hal yang sangat penting. Jadi keselamatan dan jaminan atas keselamatan mereka itu harus ada,” kata Saan Mustofa di Cikarang, Selasa (5/5/2026).
Menurut Saan, sistem transportasi harus mampu memberikan rasa aman bagi penumpang secara menyeluruh. Ia menilai masih terdapat sejumlah persoalan, terutama terkait kedisiplinan masyarakat di perlintasan kereta.
“Sudah ada peringatan bunyi kereta mau lewat, itu penting untuk dipatuhi. Maka edukasi terkait disiplin masyarakat juga harus terus dilakukan,” katanya.
Selain itu, sorotan juga diarahkan pada banyaknya perlintasan tanpa palang pintu yang dinilai rawan. Saan Mustofa menyebut, kondisi tersebut harus segera dimitigasi dengan pemetaan tingkat kerawanan di tiap wilayah.
“Perlintasan yang tidak berpalang itu harus dimitigasi. Semua potensi yang bisa menyebabkan kecelakaan harus dipetakan, apakah kendaraan yang menerobos atau faktor lainnya,” tegasnya.
Ia menjelaskan, langkah mitigasi perlu dilakukan dengan melihat tingkat kerawanan di masing-masing wilayah. Untuk daerah dengan lalu lintas padat, pembangunan infrastruktur seperti flyover atau underpass dinilai menjadi solusi yang perlu diprioritaskan.
“Di daerah yang sangat padat sudah harus mulai dipikirkan, apakah dibuat flyover atau underpass. Itu penting karena kalau ada masalah bisa menimbulkan kemacetan dan risiko kecelakaan,” tandasnya. (dul)
