Menengok Jejak Taman Limo, Destinasi Wisata Rakyat Cikarang yang Perlahan Jadi Kota Mati
Taman Limo Jatiwangi Cikarang yang sempat ramai pada 2021 kini terbengkalai. Akses putus, pengunjung hilang, dan warga beralih ke budidaya ikan.

HALLONEWS.ID – Di sudut Cikarang Barat Kabupaten Bekasi, tepatnya di Desa Jatiwangi, ada sebuah tempat yang dulu hidup kini perlahan ditelan sunyi.
Wisata Taman Limo yang pernah jadi tujuan warga melepas penat, hari ini lebih mirip ruang yang ditinggalkan waktu.
Ilalang tumbuh tinggi menutup sebagian area. Bangunan kayu tampak kusam, beberapa bahkan nyaris roboh.
Tak ada lagi suara tawa, tak terdengar riuh pedagang menawarkan dagangan. Yang tersisa hanya angin dan jejak masa lalu.
Padahal, tak lama berselang, tempat ini sempat jadi primadona. Taman Limo lahir tanpa konsep besar. Sekitar 2016-2017, warga setempat mengubah lahan kosong menjadi ruang berkumpul. Sederhana hanya tempat duduk, kopi, dan obrolan.
Namun dari situ, denyut ekonomi mulai terasa. Warung kecil bermunculan. Anak muda punya aktivitas. Ibu-ibu mulai berdagang. Pelan-pelan, Taman Limo menemukan bentuknya. Tempat ini bukan sekadar tempat wisata. Ia ruang hidup.
Momen terbaik datang di 2021, saat masyarakat mulai keluar dari tekanan pandemi. Orang mencari ruang terbuka dan Taman Limo menjawabnya. Akhir pekan berubah jadi lautan manusia. Parkiran penuh. Jalan desa macet.
Rumah makan apung ramai, anak-anak bermain di tepi kolam. “Waktu itu benar-benar ramai. Sampai kendaraan meluber ke jalan.
Tempat ini pernah menjadi destinasi wisata pavorit warga Bekasi dan sekitarnya,” kenang Santung, salah satu pengelola.
Namun seperti gelombang, puncak itu tak bertahan lama. Memasuki 2022, jumlah pengunjung mulai turun. Perlahan, pedagang kehilangan pembeli.
Satu per satu menutup lapak. Tanpa manajemen yang kuat, Taman Limo kehilangan napasnya.
Tahun 2023, aktivitas nyaris berhenti. Tak ada lagi alasan orang datang. Yang tersisa hanya ruang kosong. Titik balik terjadi di 2024.

Akses utama menuju lokasi rusak. Jalur yang selama ini menjadi pintu masuk tiba-tiba tak bisa digunakan.
Bagi tempat yang bergantung pada kunjungan, akses adalah segalanya. Ketika itu hilang, pengunjung ikut menghilang.
Meski ada jalur alternatif, tak banyak yang tahu. Taman Limo pun benar-benar terputus bukan hanya secara fisik, tapi juga dari ingatan orang.
Kini, sebagian lahan dimanfaatkan untuk budidaya ikan. Lele dan nila menjadi harapan baru, meski jauh dari hiruk pikuk masa lalu. Beberapa warga masih bertahan.
Bukan untuk menghidupkan wisata, tapi sekadar menjaga agar tempat ini tidak sepenuhnya mati.
Taman Limo hari ini adalah potret kecil tentang ruang yang lahir dari kebersamaan, tumbuh tanpa rencana besar, lalu meredup saat perubahan datang.
Ia mengajarkan satu hal sederhana: bahwa keramaian bisa diciptakan, tapi mempertahankannya jauh lebih sulit.
Taman Limo Jatiwangi merupakan bekas destinasi wisata alam dan kuliner di Kecamatan Cikarang Barat, Bekasi, yang terkenal dengan saung apung, danau, dan spot foto instagramable yang disukai warga berlibur di akhir pekan. (dul)
