Prof Ronny Noor: Evolusi Buatan Kini Jadi Kenyataan di Dunia Modern
Akademisi IPB University Prof Ronny Rachman Noor menjelaskan evolusi buatan kini diterapkan dalam komputasi, robotika, hingga bioteknologi untuk menciptakan sistem yang adaptif dan inovatif.

HALLONEWS ID – Konsep evolusi buatan yang dahulu hanya dikenal dalam cerita fiksi ilmiah kini mulai hadir dalam berbagai pengembangan teknologi modern.
Evolusi tidak lagi dipahami sebatas proses biologis pada makhluk hidup, tetapi juga dapat diterapkan melalui sistem komputer, robot, hingga makhluk sintetis.
Ahli Genetika Ekologi dari IPB University, Profesor Ronny Rachman Noor, menjelaskan bahwa evolusi buatan merupakan proses ketika sistem buatan meniru mekanisme evolusi biologis, seperti seleksi alam, mutasi, dan adaptasi.
Menurutnya, konsep tersebut diterapkan melalui algoritma komputer, robotika evolusioner, serta simulasi ekosistem digital yang dirancang agar mampu belajar dan beradaptasi secara mandiri.
“Algoritma genetika dalam komputasi dan robotika memungkinkan sistem belajar menemukan solusi terbaik melalui proses adaptasi, seperti halnya evolusi pada makhluk hidup,” ujarnya, Selasa (19/5/2026).
Prof Ronny menjelaskan bahwa gagasan evolusi buatan sebenarnya telah lama muncul dalam karya fiksi ilmiah. Sejumlah penulis seperti Mary Shelley melalui novel Frankenstein dan Isaac Asimov lewat I, Robot menggambarkan hubungan antara manusia dan teknologi ciptaannya.
Menurutnya, karya-karya tersebut menggunakan evolusi buatan sebagai metafora untuk membahas masa depan manusia, perkembangan teknologi, serta persoalan etika.
Kini, konsep tersebut berkembang menjadi penerapan nyata di berbagai sektor. Dalam bidang komputasi, evolusi buatan digunakan untuk algoritma optimasi dan pengembangan sistem adaptif.
Sementara dalam bioteknologi, metode directed evolution dimanfaatkan untuk menghasilkan enzim baru yang lebih efisien bagi industri farmasi dan biofuel.
Prof Ronny menuturkan bahwa teknik tersebut dilakukan melalui eksperimen laboratorium guna menciptakan solusi yang lebih cepat dan efektif.
Di bidang robotika, evolusi buatan memungkinkan robot mempelajari gerakan dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya tanpa harus diprogram secara detail. Proses pembelajaran dilakukan melalui simulasi berbasis mutasi dan seleksi.
Selain itu, simulasi evolusi juga digunakan untuk menciptakan “makhluk virtual” yang mampu bereproduksi dan beradaptasi dalam ekosistem digital, seperti pada proyek Avida.
Tidak hanya itu, pendekatan evolusi buatan juga diterapkan dalam perancangan material dan struktur bangunan.
Teknologi ini membantu ilmuwan dan insinyur menemukan desain paling efisien untuk berbagai kebutuhan, termasuk sayap pesawat dan konstruksi jembatan.
Meski menawarkan banyak peluang, Prof Ronny mengingatkan bahwa evolusi buatan juga membawa tantangan besar, terutama terkait etika dan dampak sosial.
Isu mengenai hak makhluk buatan, tanggung jawab pencipta teknologi, hingga potensi dominasi kecerdasan buatan menjadi perhatian penting.
Selain itu, kekhawatiran mengenai tergantikannya tenaga kerja manusia oleh teknologi adaptif juga menjadi pembahasan dalam perkembangan evolusi buatan.
Menurut Prof Ronny, evolusi buatan bukan sekadar inovasi teknologi, melainkan juga sarana untuk membayangkan berbagai kemungkinan masa depan manusia.
“Konsep yang dulu hanya ada dalam fiksi ilmiah kini telah menjadi bagian dari perkembangan ilmu pengetahuan modern dan membuka peluang besar bagi kemajuan teknologi,” katanya.
Ia menambahkan bahwa pemanfaatan evolusi buatan perlu dibarengi kesiapan sosial dan kesadaran etis agar teknologi yang dihasilkan tidak hanya canggih, tetapi juga memberi manfaat luas bagi kehidupan manusia. (opy)
