Tak Sekadar Bagi Makanan! Ini Rencana Besar IPB untuk Masa Depan Gizi Indonesia
IPB University bersama Bappenas, Badan Gizi Nasional, dan UNICEF menyusun rencana kerja 2026 untuk Center of Excellence guna memperkuat implementasi program Makan Bergizi Gratis.

HALLONEWS.ID – IPB University bersama Badan Gizi Nasional, Kementerian PPN/Bappenas, dan UNICEF menyusun Rencana Kerja Tahunan (Annual Work Plan/AWP) 2026 untuk Center of Excellence Pemenuhan Pangan dan Gizi (CoE PGN).
Kegiatan ini berlangsung pada 29–30 April 2026 di IPB International Convention Center, Bogor.
Rektor IPB University, Alim Setiawan, menegaskan bahwa penyusunan rencana kerja ini menjadi bagian penting dalam menjawab tantangan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurutnya, program tersebut tidak hanya berkaitan dengan penyediaan pangan bergizi, tetapi juga mencakup pemerataan akses dan keberlanjutan di berbagai wilayah.
Kehadiran CoE PGN diharapkan mampu memastikan program berjalan efektif, terukur, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
“Program MBG menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Karena itu, melalui CoE ini, kita ingin memastikan program berjalan efektif dan berdampak langsung bagi masyarakat,” ujarnya dalam keterangan yang diterima, Sabtu (2/5/2026).
Kepala Lembaga Riset Internasional Pangan, Gizi, Kesehatan, dan Halal IPB, Erika B Laconi, menyampaikan bahwa sepanjang 2025 CoE telah menghasilkan berbagai kajian, inovasi, serta modul pelatihan.
Materi tersebut akan diintegrasikan ke dalam sistem pembelajaran digital dan telah menjangkau tujuh regional melalui pelatihan serta pengembangan materi edukasi. Selain itu, IPB bersama UNICEF juga melakukan riset awal di Jayapura untuk menentukan intervensi program yang lebih tepat sasaran.
Kolaborasi internasional turut dilakukan, termasuk survei sanitasi dengan mitra dari Jepang dan Selandia Baru guna memperkuat implementasi program MBG.
Penguatan Sumber Daya dan Implementasi
Dalam mendukung pelaksanaan program di lapangan, IPB telah menyiapkan 419 tenaga pelatih yang terdiri dari 77 trainer nasional dan 342 fasilitator edukasi.
Forum penyusunan rencana kerja ini juga menekankan pentingnya implementasi nyata dari berbagai panduan yang telah disusun. Kolaborasi lintas sektor dinilai krusial untuk mendorong transformasi program MBG menjadi sistem yang lebih adaptif dan berkelanjutan.
Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat, Diah Lenggogeni, menyoroti empat fokus utama penguatan CoE, yaitu peningkatan kualitas program melalui standar gizi dan keamanan pangan, penguatan edukasi masyarakat, penyusunan rekomendasi kebijakan, serta diseminasi praktik baik.
Selain itu, CoE juga berperan dalam integrasi uji coba program MBG di berbagai daerah. Sejumlah wilayah yang direncanakan menjadi lokasi pilot project antara lain Malang, Papua, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Tenggara.
Uji coba tersebut akan menitikberatkan pada penguatan rantai pasok pangan, pengembangan ekosistem, penerapan konsep blue food, sistem keamanan pangan, serta perbaikan proses bisnis program.
Melalui rencana kerja 2026 ini, kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan mitra internasional diharapkan mampu memperkuat program Makan Bergizi Gratis secara menyeluruh, sekaligus meningkatkan kualitas gizi masyarakat serta membangun sistem pangan yang lebih berkelanjutan di Indonesia. (opy)
