Wakapolri Dorong Smart Policing di Rakernis Korlantas 2026, ETLE dan AI Jadi Prioritas

Wakapolri Komjen Pol Dedi Prasetyo membuka Rakernis Korlantas 2026 dengan menekankan smart policing, ETLE, AI, dan pelayanan humanis demi meningkatkan keselamatan serta kepercayaan publik.

Jumat, 22 Mei 2026 - 15:30 WIB
Wakapolri Dorong Smart Policing di Rakernis Korlantas 2026, ETLE dan AI Jadi Prioritas
Wakapolri Komjen Pol Dedi Prasetyo membuka Rapat Kerja Teknis (Rakernis) Fungsi Korlantas Polri Tahun Anggaran 2026 di Jakarta, Jumat (22/5/2026). Foto: Humas Polri for Hallonews

HALLONEWS.ID – Wakapolri Komjen Pol Dedi Prasetyo membuka Rapat Kerja Teknis (Rakernis) Fungsi Korlantas Polri Tahun Anggaran 2026 di Jakarta, Jumat (22/5/2026).

Dalam arahannya, ia menegaskan pentingnya transformasi digital di sektor lalu lintas untuk menjawab tantangan mobilitas masyarakat yang semakin kompleks.

Menurut Dedi, fungsi lalu lintas kini memiliki posisi strategis dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional, mendukung distribusi logistik, hingga meningkatkan produktivitas masyarakat. Karena itu, penerapan teknologi modern dalam pelayanan publik harus terus diperkuat.

“Digitalisasi layanan lalu lintas bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan untuk menghadirkan pelayanan yang cepat, transparan, terintegrasi, dan mudah diakses masyarakat,” ujar Dedi.

Dalam forum Rakernis tersebut, Wakapolri juga mengapresiasi capaian Operasi Ketupat 2026 yang dinilai berhasil meningkatkan keselamatan masyarakat selama arus mudik dan balik Lebaran.

Data menunjukkan angka kecelakaan lalu lintas turun sebesar 5,31 persen dibanding tahun sebelumnya. Sementara jumlah korban meninggal dunia menurun hingga 30,41 persen.

Tak hanya itu, hasil survei Indikator Politik Indonesia mencatat tingkat kepuasan masyarakat terhadap penyelenggaraan mudik Lebaran 2026 mencapai 85,3 persen. Sedangkan tingkat kepercayaan publik terhadap Polri meningkat menjadi 63,7 persen.

Meski demikian, Dedi meminta seluruh jajaran Korlantas Polri tidak cepat berpuas diri. Ia menyoroti masih tingginya titik rawan kecelakaan atau black spot, trouble spot, kecelakaan di perlintasan sebidang kereta api, hingga kemacetan di berbagai kota besar.

“Jajaran Korlantas adalah etalase Polri. Perilaku anggota di lapangan sangat memengaruhi tingkat kepercayaan masyarakat terhadap institusi,” tegasnya.

Dalam arahannya, Wakapolri juga meminta penguatan konsep smart policing melalui pengembangan sistem ETLE, integrasi CCTV, pemanfaatan kecerdasan buatan atau AI, serta sistem pemantauan lalu lintas berbasis data real time.

Ia menekankan bahwa pelayanan humanis dan profesional harus menjadi fondasi utama dalam membangun budaya tertib berlalu lintas di Indonesia.

“Lalu lintas merupakan refleksi tingkat peradaban bangsa. Karena itu, Polantas harus menjadi garda terdepan dalam membangun budaya tertib dan keselamatan berlalu lintas,” pungkasnya. (min)