Wapres ke-6 RI Try Sutrisno Wafat, Jejak Jenderal yang Menjadi Orang Nomor Dua di Indonesia
Wakil Presiden ke-6 RI Try Sutrisno wafat pada Senin, 1 Maret 2026, di RSPAD Gatot Soebroto. Simak biografi lengkap, perjalanan militer, hingga kiprahnya sebagai Wapres 1993–1998.

HALLONEWS.ID — Indonesia berduka. Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia, Try Sutrisno, wafat pada Senin pagi, 1 Maret 2026, sekitar pukul 07.00 WIB di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta.
Kabar duka ini pertama kali beredar melalui pesan yang mengatasnamakan keluarga dan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), serta kemudian dibenarkan sejumlah pejabat di lingkungan Kementerian Sekretariat Negara dan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres).
Jenazah almarhum dimandikan di RSPAD sebelum dibawa ke rumah duka di Jalan Purwakarta Nomor 6, Menteng, Jakarta Pusat.
“Mohon dimaafkan segala kesalahan dan khilaf almarhum semasa hidup. Semoga amal ibadah almarhum diterima di sisi Allah SWT,” demikian pesan keluarga.
Kepergian Try Sutrisno menutup perjalanan panjang seorang prajurit yang menapaki karier militer hingga menjadi orang nomor dua di republik ini.
Try Sutrisno lahir di Surabaya, 15 November 1935 dari keluarga sederhana. Sejak muda, ia telah menunjukkan minat besar pada dunia militer. Ia menempuh pendidikan di Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad), yang kemudian menjadi bagian dari sistem pendidikan TNI Angkatan Darat.
Kariernya dimulai sebagai perwira di lingkungan TNI AD dan perlahan menanjak melalui berbagai jabatan strategis, terutama di bidang komando dan teritorial.
Perjalanan militer Try Sutrisno terbilang panjang dan berpengaruh dalam sejarah pertahanan Indonesia.
Beberapa jabatan penting yang pernah diembannya antara lain Pangdam IV/Diponegoro, Pangdam V/Jaya, Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD), dan Panglima ABRI (1988–1993)
Sebagai Panglima ABRI, ia memimpin angkatan bersenjata pada masa yang penuh dinamika politik dan keamanan menjelang dekade 1990-an. Pada era tersebut, ABRI (kini TNI) memegang peran strategis tidak hanya dalam pertahanan, tetapi juga dalam kehidupan politik melalui konsep dwifungsi ABRI.
Menjadi Wakil Presiden ke-6 RI
Pada Sidang Umum MPR 1993, Try Sutrisno terpilih sebagai Wakil Presiden mendampingi Presiden Soeharto untuk periode 1993–1998.
Masa jabatannya sebagai wakil presiden berada pada periode krusial menjelang runtuhnya Orde Baru. Ia menjadi bagian dari kepemimpinan nasional saat Indonesia menghadapi tekanan ekonomi dan politik yang akhirnya berpuncak pada krisis 1997–1998.
Sebagai wakil presiden, perannya lebih banyak berada dalam lingkup koordinasi dan mendukung agenda pemerintahan saat itu. Namun, latar belakang militernya membuatnya dikenal sebagai figur yang tegas dan disiplin.
Kiprah Kebangsaan
Setelah tidak lagi menjabat pada 1998, Try Sutrisno tetap aktif dalam berbagai kegiatan kebangsaan dan organisasi purnawirawan TNI. Ia juga kerap hadir dalam forum-forum diskusi mengenai Pancasila, pertahanan negara, dan wawasan kebangsaan.
Dalam beberapa kesempatan, ia menyuarakan pentingnya persatuan nasional dan stabilitas negara di tengah perubahan zaman. (ren)
