22 Sekolah di Jakarta Rusak Berat, Empat di Antaranya Kritis
Terdapat 22 sekolah rusak berat di Jakarta yang telah memperoleh rekomendasi teknis untuk direhabilitasi total.

HALLONEWS.ID – Sebanyak 22 sekolah di DKI Jakarta teridentifikasi membutuhkan rehabilitasi total akibat kondisi bangunan yang mengalami kerusakan berat, empat di antaranya dalam kondisi kritis.
Menyikapi kondisi tersebut, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memutuskan mempercepat penanganan empat sekolah dengan tingkat kerusakan paling kritis pada tahun ini demi menjamin keselamatan siswa dan tenaga pendidik.
Empat sekolah yang diprioritaskan yakni SDN Kebayoran Lama Selatan 09 yang akan diregrouping dengan SDN Kebayoran Lama Selatan 11, SMAN 102 Jakarta, SDN Cempaka Putih Barat 03, serta SDN Papanggo 01 bersama TKN Papanggo 01.
“Keselamatan siswa dan tenaga pendidik menjadi prioritas. Karena itu, kegiatan belajar mengajar telah direlokasi ke SDN Kebayoran Lama Selatan 11 sejak November 2024 agar tetap berlangsung dengan aman,” ujar Pramono saat meninjau SDN Kebayoran Lama Selatan 09, Jakarta Selatan, Jumat (24/7/2026).
Menurut Pramono, berdasarkan data Dinas Pendidikan DKI Jakarta terdapat 22 sekolah yang telah memperoleh rekomendasi teknis untuk direhabilitasi total.
Namun, keterbatasan anggaran membuat pemerintah hanya dapat mengalokasikan pendanaan bagi tujuh sekolah melalui APBD 2026–2027.
Melihat kondisi empat sekolah yang dinilai paling mengkhawatirkan, Pemprov DKI memutuskan mempercepat proses rehabilitasi pada tahun ini.
“Sebagai bagian dari penataan, SDN Kebayoran Lama Selatan 09 akan diregrouping dengan SDN Kebayoran Lama Selatan 11 untuk mendukung pembangunan sekolah yang lebih aman, nyaman, dan representatif. Kebutuhan anggaran untuk regrouping kedua sekolah tersebut diperkirakan mencapai sekitar Rp48,15 miliar,” kata Pramono.
Selain regrouping SDN Kebayoran Lama Selatan, tiga sekolah lain yang akan segera direhabilitasi yakni SMAN 102 Jakarta dengan kebutuhan anggaran sekitar Rp67,5 miliar, SDN Cempaka Putih Barat 03 sebesar Rp48,4 miliar, serta SDN Papanggo 01 dan TKN Papanggo 01 senilai Rp74,1 miliar.
Secara keseluruhan, kebutuhan anggaran untuk memperbaiki empat sekolah tersebut diperkirakan mencapai sekitar Rp249 miliar.
Dana tersebut mencakup pekerjaan konstruksi, jasa konsultansi konstruksi, hingga jasa sewa angkut dan gudang selama proses pembangunan berlangsung.
Pramono menjelaskan, percepatan rehabilitasi akan didanai melalui APBD Perubahan serta sumber pendanaan non-APBD, seperti kewajiban kompensasi atas pelampauan nilai Koefisien Lantai Bangunan (KLB), RSM/S, dan sumber lain yang sesuai dengan ketentuan.
“Kami ingin percepatan. Karena itu, sebagian pendanaan akan menggunakan dana KLB, sedangkan kebutuhan lainnya akan disesuaikan melalui APBD Perubahan,” ujarnya.
Ia menegaskan proses pembangunan harus dikerjakan oleh pihak yang memiliki kompetensi dan rekam jejak yang baik agar kualitas bangunan benar-benar terjamin.
“Saya minta yang ditunjuk membangun adalah orang yang memang profesional. Saya tidak mau pembangunan yang diupayakan tidak gampang ini kemudian tidak dikerjakan secara sungguh-sungguh,” tegasnya.
Untuk memastikan penanganan dilakukan secara menyeluruh, Pemprov DKI Jakarta juga akan membentuk Tim Inventarisasi Kondisi Kerusakan Gedung Sekolah yang melibatkan sejumlah perangkat daerah.
Tim tersebut diberi waktu satu bulan untuk memeriksa kondisi seluruh gedung sekolah di Jakarta sekaligus memverifikasi status tanah dan bangunannya.
Hasil inventarisasi akan menjadi dasar penetapan prioritas penanganan, baik melalui rehabilitasi, pembangunan kembali, pembelian lahan, relokasi, maupun langkah penyelesaian lain sesuai kondisi masing-masing sekolah.
Selain itu, Dinas Cipta Karya, Tata Ruang, dan Pertanahan (Citata) akan mendampingi Dinas Pendidikan sejak tahap perencanaan, penyusunan desain, pengadaan, hingga pelaksanaan pembangunan.
Pemprov juga menyiapkan standar operasional prosedur (SOP) serta mekanisme relokasi sementara bagi sekolah yang mengalami kerusakan berat.
Pramono memastikan perhatian pemerintah tidak hanya tertuju pada empat sekolah yang saat ini menjadi prioritas, tetapi juga seluruh sekolah yang membutuhkan rehabilitasi.
“Mudah-mudahan apa yang menjadi kerisauan semua, termasuk saya pribadi, karena apa pun pendidikan buat saya adalah prioritas untuk dibangun di Jakarta ini, diperbaiki,” pungkasnya. (iin)
