Dari Ruang Advokasi ke Teror Air Keras: Jejak Kritis Andrie Yunus yang Tak Bisa Dibungkam
Serangan air keras terhadap Andrie Yunus membuka kembali risiko yang dihadapi aktivis HAM di Indonesia. Berikut jejak kritisnya di KontraS.

HALLONEWS.ID – Serangan air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus, bukan sekadar tindak kriminal biasa. Peristiwa ini menjadi alarm keras tentang tingginya risiko yang dihadapi para pembela hak asasi manusia di Indonesia.
Insiden terjadi pada Kamis (12/3/2026) di kawasan Jakarta Pusat, saat Andrie melintas menggunakan sepeda motor. Dalam sekejap, cairan korosif disiramkan ke tubuhnya hingga membuatnya terjatuh.
Akibat serangan tersebut, Andrie mengalami luka bakar serius di wajah, mata, dada, dan tangan, dengan total luka mencapai sekitar 24 persen. Hingga kini, ia masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).
Penyelidikan mengarah pada keterlibatan empat orang terduga pelaku. Komandan Pusat Polisi Militer TNI, Yusri Nuryanto, menyebut mereka berasal dari unsur Denma Badan Intelijen Strategis (Bais) TNI. Meski demikian, motif di balik serangan tersebut masih terus didalami.
Aktivis Muda dengan Rekam Jejak Panjang
Di balik tragedi ini, Andrie dikenal sebagai aktivis muda dengan rekam jejak kuat di bidang hukum dan HAM.
Lahir di Bogor pada 1998, ia menempuh pendidikan hukum di Sekolah Tinggi Hukum Indonesia (STHI) Jentera dengan fokus pada hukum konstitusi.
Sejak masa sekolah, jiwa kepemimpinannya telah terlihat. Ia pernah menjabat Ketua OSIS di SMA Negeri 1 Cicurug dan melanjutkan kiprah organisasi sebagai Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa saat kuliah.
Karier advokasinya dimulai dari dunia bantuan hukum. Andrie pernah menjadi asisten pengabdi di LBH Jakarta serta menjalani magang di LBH APIK Jakarta.
Setelah memperoleh lisensi advokat dari Perhimpunan Advokat Indonesia pada 2023, perannya dalam advokasi semakin kuat.
Ia kemudian bergabung dengan KontraS pada 2022, sebelum dipercaya menjadi Kepala Divisi Hukum pada periode 2023–2025.
Pada Februari 2025, ia naik menjadi wakil koordinator bidang eksternal, posisi strategis yang menempatkannya di garis depan advokasi kebijakan publik.
Terlibat Kasus-Kasus Sensitif
Dalam perannya, Andrie terlibat dalam berbagai advokasi penting, mulai dari investigasi dugaan pembunuhan di luar hukum di Timika, kasus kerangkeng manusia di Langkat, hingga penembakan warga di Desa Bangkal.
Ia juga aktif mengawal isu reformasi sektor keamanan dan menolak praktik penyiksaan.
Sepanjang 2025 hingga 2026, Andrie dikenal vokal dalam mengkritisi kebijakan negara, termasuk penolakannya terhadap pembahasan revisi Undang-Undang TNI yang dinilai tidak transparan.
Bahkan, ia sempat menerobos forum rapat tertutup sebagai bentuk protes terhadap minimnya keterbukaan publik.
Suara Kritis di Ruang Konstitusi
Tak hanya di lapangan, Andrie juga aktif dalam jalur hukum. Ia pernah menjadi saksi dalam sidang uji materi undang-undang di Mahkamah Konstitusi.
Selain itu, ia turut tergabung dalam tim pencari fakta yang mengungkap dugaan penangkapan massal terhadap anak muda pascagelombang demonstrasi 2025.
Koordinator Badan Pekerja KontraS, Dimas Bagus Arya, menyebut serangan terjadi setelah Andrie menyelesaikan rekaman siniar di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Menteng.
Peristiwa ini tidak hanya melukai individu, tetapi juga mengguncang ruang sipil Indonesia.
Serangan terhadap aktivis HAM dinilai sebagai ancaman serius terhadap kebebasan berekspresi dan demokrasi.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa perjuangan menegakkan keadilan sering kali dibayar mahal—bahkan dengan risiko keselamatan jiwa. (dul)
