BPS Umumkan Inflasi DKI Turun, Kenapa Biaya Hidup Jakarta Masih Berat?

BPS DKI Jakarta mencatat inflasi melandai, tetapi biaya hidup masyarakat ibu kota dinilai masih berat.

Senin, 4 Mei 2026 - 18:27 WIB
BPS Umumkan Inflasi DKI Turun, Kenapa Biaya Hidup Jakarta Masih Berat?
Jakarta alami inflasi tendah tapi ingkos Hidup warga belum ikut Tlturun. Foto: Feris Pakpahan/Hallonews.

HALLONEWS.ID – Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta mencatat tingkat inflasi tahunan ibu kota pada April 2026 berada di angka 2,12 persen.

Angka ini lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencapai 3,37 persen.

Sekilas, penurunan tersebut menjadi kabar baik bagi perekonomian Jakarta.

Namun di balik turunnya angka inflasi, warga masih menghadapi tekanan biaya hidup dari sektor pangan hingga transportasi.

Kepala BPS DKI Jakarta, Kadarmanto, menjelaskan turunnya inflasi salah satunya dipengaruhi faktor statistik, yakni tidak adanya lagi efek pembanding rendah atau low-base effect setelah tarif listrik kembali normal pascadiskon pada Maret 2026.

Artinya, penurunan inflasi kali ini bukan sepenuhnya karena harga-harga turun drastis di pasar.

BPS mencatat, komoditas yang paling besar menyumbang inflasi tahunan Jakarta adalah emas perhiasan dengan andil sebesar 0,70 persen.

Setelah itu disusul yakni Daging ayam ras (0,20 persen), Angkutan udara (0,15 persen), Beras (0,12 persen)
Minyak goreng (0,07 persen)

“Naiknya harga emas biasanya menjadi sinyal masyarakat mencari aset aman di tengah ketidakpastian ekonomi,” katanya dalam keterangan pada Senin (4/5/2026).

Meski inflasi turun, sejumlah kebutuhan pokok warga masih mengalami kenaikan harga. Daging ayam, beras, dan minyak goreng tetap memberi tekanan terhadap pengeluaran rumah tangga.

Kondisi ini menunjukkan tantangan utama Jakarta bukan hanya menjaga angka inflasi tetap rendah, tetapi memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terjangkau.

Bagi keluarga kelas menengah ke bawah, kenaikan harga pangan sedikit saja bisa langsung terasa pada belanja harian.

Secara bulanan, Jakarta mengalami inflasi 0,21 persen pada April 2026 dibanding Maret 2026.

Kenaikan terbesar datang dari kelompok transportasi dengan andil 0,19 persen.

Dua komoditas utama penyebabnya ialah yakni Tarif angkutan udara (0,15 persen), Bensin (0,04 persen).

Menurut BPS, tiket pesawat naik akibat harga avtur meningkat dan tarif penerbangan kembali normal setelah masa diskon Lebaran berakhir.

Sementara itu, harga bensin non subsidi ikut naik sejak 18 April lalu.

Di sisi lain, beberapa komoditas justru menahan laju inflasi Jakarta.

Di antaranya, Bawang merah, Bawang putih, Cabai merah, Cabai rawit, Telepon seluler.

Penurunan harga komoditas ini membantu meredam tekanan inflasi pada April 2026.

Meski angka inflasi resmi turun, banyak warga menilai kondisi ekonomi belum sepenuhnya ringan.

Harga kebutuhan pokok, ongkos transportasi, dan biaya hidup di Jakarta masih menjadi tantangan sehari-hari.

Karena itu, publik berharap pemerintah tidak hanya fokus pada angka statistik, tetapi juga menghadirkan kebijakan nyata yang membuat belanja rumah tangga lebih terjangkau. (fer)