Pesepeda Tertabrak Bus Transjakarta, Publik Soroti Keamanan CFD di Era Gubernur Pramono

Insiden pesepeda tertabrak bus Transjakarta di kawasan Monas saat CFD memicu sorotan publik terhadap keamanan ruang publik dan pengawasan Pemprov DKI Jakarta.

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:00 WIB
Pesepeda Tertabrak Bus Transjakarta, Publik Soroti Keamanan CFD di Era Gubernur Pramono
Sejumlah warga menikmati Car Free Day (CFD) di kawasan Monas, Jakarta. Foto: Diskominfotik for Hallonews

HALLONEWS.ID – Insiden pesepeda yang diduga tertabrak bus Transjakarta di kawasan Monas saat menuju area Car Free Day (CFD) memunculkan kekhawatiran baru di tengah masyarakat.

Ruang publik yang selama ini dianggap aman untuk berolahraga dan berekreasi kini mulai dipertanyakan tingkat keamanannya oleh warga.

Peristiwa tersebut dinilai bukan sekadar kecelakaan lalu lintas biasa, melainkan menjadi alarm serius bagi pengelolaan kawasan CFD di Jakarta. Banyak warga menilai satu insiden saja dapat memengaruhi rasa aman masyarakat yang setiap akhir pekan memadati kawasan Monas dan sekitarnya.

Pengamat Kebijakan Publik Universitas Trisakti, Trubus Rahardiansah, menilai kejadian itu harus menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola CFD di Jakarta.

Menurutnya, ruang publik hanya akan dipercaya masyarakat apabila pemerintah mampu menjamin keselamatan seluruh penggunanya.

“CFD bukan hanya kegiatan mingguan, tetapi simbol ruang aman warga. Ketika terjadi insiden serius, maka kepercayaan publik ikut terganggu. Pemerintah harus cepat merespons dengan evaluasi menyeluruh,” kata Trubus, Sabtu (9/5/2026).

Ia menegaskan masyarakat datang ke kawasan CFD dengan harapan dapat berolahraga bersama keluarga tanpa rasa cemas. Karena itu, aspek keamanan tidak boleh dianggap sekadar pelengkap kegiatan.

“Kalau warga mulai merasa waswas, maka fungsi sosial CFD bisa menurun. Pemerintah harus memastikan kejadian seperti ini tidak terulang,” ujarnya.

Sementara itu, pengamat transportasi Djoko Setijowarno menilai insiden tersebut menunjukkan masih adanya persoalan integrasi antara jalur aktivitas warga dan operasional kendaraan umum di kawasan padat aktivitas.

Menurut Djoko, area CFD seharusnya memiliki pengaturan lalu lintas yang tegas, jelas, serta steril dari potensi konflik antara kendaraan besar dengan pesepeda maupun pejalan kaki.

“Keselamatan harus menjadi prioritas utama. Jika masih ada ruang pertemuan antara bus dan pesepeda di titik ramai, maka risiko kecelakaan tetap tinggi,” katanya.

Ia juga mendorong Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama Dinas Perhubungan melakukan audit jalur, pola pengamanan lapangan, serta rekayasa lalu lintas di kawasan Monas saat CFD berlangsung.

“Perlu ada pemisahan ruang yang tegas. Jangan sampai warga datang untuk sehat, tetapi justru pulang membawa trauma,” ucapnya.

Insiden di kawasan Monas tersebut turut memicu diskusi luas di media sosial. Sejumlah warga mengaku mulai khawatir membawa anak-anak maupun keluarga untuk beraktivitas di area CFD apabila sistem pengamanan tidak segera diperbaiki.

Bagi banyak warga Jakarta, CFD bukan sekadar ajang olahraga, tetapi juga ruang berkumpul, bersantai, dan menikmati suasana kota yang lebih ramah bagi masyarakat. Karena itu, rasa aman menjadi faktor utama agar kepercayaan publik tetap terjaga.

Kini perhatian masyarakat tertuju pada langkah konkret Pemprov DKI Jakarta dan pengelola transportasi dalam menjawab keresahan tersebut.

Sebab, satu insiden dinilai telah cukup mengubah persepsi sebagian warga terhadap keamanan ruang publik di jantung ibu kota. (fer)