BMKG: Indonesia Makin Gerah, El Nino Picu Panas Ekstrem Sepanjang 2026
BMKG memperingatkan El Nino menguat dan pemanasan global berpotensi membuat Indonesia semakin gerah sepanjang 2026. Simak dampak dan wilayah perlu waspada.

HALLONEWS.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat agar tidak lengah menghadapi dampak El Nino yang diperkirakan semakin menguat sepanjang 2026.
Di tengah tren pemanasan global, suhu udara di Indonesia diproyeksikan terus meningkat dan berpotensi memicu berbagai gangguan kesehatan, meski peluang terjadinya gelombang panas (heatwave) seperti di Eropa dinilai masih rendah.
BMKG menegaskan ancaman utama yang perlu diwaspadai bukanlah heatwave, melainkan paparan suhu panas yang berlangsung dalam waktu lama, diperparah oleh tingkat kelembapan udara yang tinggi.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan, kombinasi El Nino dan perubahan iklim global membuat hari-hari dengan suhu tinggi akan semakin sering dirasakan masyarakat di berbagai wilayah Indonesia.
Berbeda dengan negara-negara di kawasan subtropis yang rentan mengalami gelombang panas ekstrem, Indonesia memiliki karakteristik iklim tropis yang membuat suhu udara relatif lebih stabil sepanjang tahun.
Laut yang mengelilingi wilayah Indonesia juga berperan sebagai penyangga alami sehingga lonjakan suhu ekstrem seperti di Eropa atau Amerika relatif sulit terjadi.
“Namun, bukan berarti kita bisa mengabaikan dampaknya. Paparan suhu tinggi secara terus-menerus tetap dapat memengaruhi kesehatan masyarakat,” kata Ardhasena dalam keterangan diterima Hallonews, Minggu (12/7/2026).
BMKG mencatat suhu rata-rata Indonesia pada Mei 2026 mencapai 27,5 derajat Celsius atau sekitar 0,5 derajat lebih tinggi dibandingkan rata-rata klimatologi periode 1991–2020.
Kenaikan tersebut memang terlihat kecil, namun dinilai cukup signifikan untuk meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan dalam waktu lama.
Menurut BMKG, tren pemanasan di Indonesia juga terus berlanjut. Suhu rata-rata nasional mengalami kenaikan sekitar 0,13 hingga 0,14 derajat Celsius setiap dekade.
Bahkan, Juni 2026 tercatat sebagai bulan terpanas sejak periode klimatologi 1991–2020.
Selain siang yang semakin terik, BMKG juga mencatat jumlah tropical nights atau malam hari dengan suhu tetap hangat terus bertambah, terutama di kawasan pesisir.
“Kondisi tersebut membuat tubuh memiliki waktu lebih sedikit untuk memulihkan diri dari paparan panas pada siang hari,” ungkapnya.
El Nino Berpotensi Capai Intensitas Kuat
BMKG mengungkapkan fenomena El Nino 2026 telah aktif dan berpotensi berkembang menjadi kategori kuat dalam beberapa bulan mendatang.
Jika kondisi tersebut terjadi, Indonesia diperkirakan menghadapi peningkatan risiko kekeringan, suhu udara yang lebih tinggi, heatstroke, penurunan kualitas udara, hingga meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kondisi cuaca yang lebih kering juga dapat memperburuk konsentrasi polutan di udara sehingga berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan.
BMKG mengimbau masyarakat tidak menganggap remeh peningkatan suhu yang terjadi secara bertahap.
Paparan panas berkepanjangan yang dipadukan dengan kelembapan tinggi dapat meningkatkan beban panas yang dirasakan tubuh, sehingga risiko dehidrasi, kelelahan akibat panas, hingga heatstroke menjadi lebih besar.
Karena itu, masyarakat diminta memperbanyak konsumsi air putih, mengurangi aktivitas berat saat cuaca sangat terik, menggunakan pelindung diri ketika berada di luar ruangan, serta terus memantau informasi cuaca dan iklim yang dikeluarkan BMKG.
Meski Indonesia diperkirakan tidak mengalami heatwave seperti yang melanda sejumlah negara di Eropa, BMKG menegaskan dampak El Nino dan pemanasan global tetap perlu diantisipasi sejak dini agar tidak menimbulkan risiko yang lebih besar bagi kesehatan maupun lingkungan. (dul)
