IPB University Catat Sejarah, Pertama Kali Lepasliarkan Rusa Timor ke Habitat Alami
IPB University melepasliarkan 10 rusa timor hasil penangkaran ke Suaka Margasatwa Cikepuh, Sukabumi, sebagai upaya memperkuat konservasi satwa liar melalui kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah, dan dunia usaha.

HALLONEWS.ID – IPB University kembali menegaskan komitmennya dalam pelestarian keanekaragaman hayati dengan melepasliarkan 10 ekor rusa timor (Rusa timorensis) ke Suaka Margasatwa Cikepuh, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Kamis (16/7/2026).
Kesepuluh rusa tersebut merupakan hasil penangkaran Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (KSHE), Fakultas Kehutanan dan Lingkungan (FAHUTAN) IPB University yang berada di Taman Hutan Kampus IPB Dramaga.
Pelepasliaran ini menjadi tonggak penting karena merupakan pelepasliaran rusa timor pertama yang dilakukan secara langsung oleh institusi pendidikan tinggi di Indonesia.
Program tersebut menjadi implementasi nyata penguatan konservasi yang menghubungkan pengelolaan satwa dari pendekatan ex situ (penangkaran) menuju in situ (habitat alami).
Kepala Departemen KSHE IPB University, Dr. Nyoto Santoso, mengatakan keberhasilan program tersebut merupakan hasil kolaborasi jangka panjang antara IPB University, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat, United Tractors, serta pemerintah daerah.
Menurutnya, sinergi berbagai pihak memungkinkan pengembangan penangkaran rusa dilakukan secara optimal, mulai dari peningkatan fasilitas kandang hingga kualitas perawatan satwa.
“Kolaborasi ini menunjukkan bahwa konservasi tidak dapat dilakukan sendiri. Sinergi perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat menjadi kunci untuk menghadirkan kembali satwa liar di habitat alaminya,” ujar Nyoto.
Ia menjelaskan, pelepasliaran tersebut tidak hanya bertujuan mengembalikan rusa ke habitat aslinya, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memulihkan populasi rusa timor yang pernah menghuni kawasan Suaka Margasatwa Cikepuh.
Sebagai bentuk komitmen jangka panjang, IPB University juga akan melakukan pemantauan terhadap perkembangan rusa yang dilepasliarkan melalui berbagai kegiatan penelitian mahasiswa.
“IPB University akan terus melakukan pemantauan melalui kegiatan penelitian mahasiswa guna memastikan perkembangan populasi rusa di habitat alaminya,” katanya.
Sementara itu, Human Capital, Communications and Sustainability Director United Tractors, Ari Sutrisno, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menjalankan program tanggung jawab sosial dan lingkungan melalui program UTrees.
Ia berharap rusa yang dilepasliarkan mampu beradaptasi, berkembang biak, serta berkontribusi dalam menjaga keseimbangan ekosistem di kawasan konservasi.
“Program ini adalah bentuk gerak bersama atau moving as one. Kami percaya kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, industri, dan masyarakat akan menghasilkan dampak yang lebih besar bagi kelestarian lingkungan,” ujar Ari.
Di sisi lain, Kepala Bidang KSDA Wilayah I BBKSDA Jawa Barat, Wawan Sukawan, menilai pelepasliaran satwa merupakan langkah strategis untuk meningkatkan populasi satwa liar melalui program restocking.
Meski demikian, ia menegaskan keberhasilan konservasi tidak berhenti pada proses pelepasliaran. Perlindungan habitat dan pengawasan berkelanjutan menjadi faktor penting agar satwa mampu bertahan hidup serta berkembang biak di alam.
“Alam merupakan rumah terbaik bagi satwa liar. Tugas kita bersama adalah memastikan habitat tersebut tetap lestari sehingga satwa yang dilepasliarkan dapat hidup, berkembang biak, dan kembali menjadi bagian penting dari keseimbangan ekosistem,” tutup Wawan. (opy)
