Dedie Rachim Paparkan Strategi Kota Bogor Wujudkan Masyarakat Sehat
Wali Kota Bogor Dedie A Rachim memaparkan strategi mewujudkan masyarakat sehat melalui Perda KTR, layanan kesehatan gratis, dan ruang publik.

HALLONEWS.ID – Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, memaparkan berbagai strategi dan kebijakan Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor dalam mewujudkan masyarakat yang sehat dan berkualitas pada Diseminasi Hasil Joint External Review (JER) Bidang Promosi Kesehatan di Gedung Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Jakarta.
Kegiatan yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes tersebut mengusung tema “Dari Data Menuju Kolaborasi Nyata untuk Perilaku Hidup Sehat Indonesia”.
Dalam pemaparannya, Dedie Rachim menegaskan bahwa terwujudnya kota sehat tidak hanya bergantung pada program pemerintah, tetapi juga memerlukan kebijakan yang tepat serta kolaborasi berbagai pihak.
Ia menjelaskan, Kota Bogor telah menerapkan sejumlah praktik baik (best practice) yang melibatkan pemerintah daerah, DPRD, sektor swasta, komunitas, hingga masyarakat.
Salah satu kebijakan yang dinilai berhasil adalah implementasi Peraturan Daerah (Perda) tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) sebagai upaya menciptakan lingkungan yang lebih sehat.
“Untuk menjadikan sebuah daerah menjadi kota/kabupaten sehat perlu ditunjang oleh kebijakan yang tepat. Di Kota Bogor ada berbagai best practice yang diimplementasikan, di antaranya Perda KTR yang di dalamnya melibatkan Pemkot Bogor dan DPRD Kota Bogor yang juga didukung oleh sektor swasta dan elemen masyarakat,” ujar Dedie dikutip wartawan media ini Jumat (24/7/2026).
Selain itu, Pemkot Bogor juga menjalankan program pemeriksaan kesehatan gratis guna membangun kesadaran masyarakat untuk rutin memantau kondisi kesehatannya.
Data dari pemeriksaan tersebut juga menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan kesehatan daerah.
Di sisi lain, Pemkot bersama DPRD Kota Bogor terus memperluas akses masyarakat terhadap ruang terbuka publik sebagai sarana olahraga dan mendorong budaya hidup aktif.
Menurut Dedie, berbagai kebijakan tersebut berdampak positif terhadap kualitas hidup masyarakat. Saat ini, angka harapan hidup di Kota Bogor mencapai 76,24 tahun, lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional, serta diikuti dengan penurunan angka kematian bayi.
“Proses-prosesnya tentu sangat kompleks, melibatkan berbagai unsur dan tentu ada juga kebijakan yang tepat dilakukan oleh pemerintah didukung oleh DPRD.
Kebersamaan ini menjadi kolaborasi dan sinergi semua pihak sehingga manfaatnya semakin dirasakan masyarakat,” katanya.
Dalam forum tersebut, sejumlah pihak dari sektor swasta, komunitas, hingga Badan Pangan menyatakan ketertarikannya menjadikan Kota Bogor sebagai salah satu lokasi pilot project penguatan perilaku hidup sehat masyarakat.
Menanggapi hal itu, Dedie menyambut baik peluang kolaborasi tersebut dan menegaskan kesiapan Pemkot Bogor untuk terus memperkuat berbagai program peningkatan kesehatan masyarakat.
Sementara itu, Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan, Maria Endang Sumiwi, mengapresiasi konsistensi Kota Bogor dalam menerapkan kebijakan yang mendukung perilaku hidup sehat.
Ia menjelaskan bahwa Joint External Review (JER) Promosi Kesehatan merupakan kajian independen yang didukung UNICEF untuk menilai berbagai faktor yang memengaruhi status kesehatan masyarakat, mulai dari masa kehamilan hingga lanjut usia.
“Penilaian dilakukan terhadap kemampuan individu dalam mengadopsi perilaku hidup sehat, peran aktif komunitas, lingkungan yang mendukung, hingga kebijakan publik seperti yang secara konsisten diterapkan oleh Pemerintah Kota Bogor,” ujar Maria. (opy)
