Bekasi Masuk Musim Kemarau, Kenapa Hujan Masih Turun? Ini Kata BPBD
Meski Bekasi mulai memasuki musim kemarau, BPBD mengingatkan ancaman banjir dan cuaca ekstrem masih bisa terjadi.

HALLONEWS.ID – Memasuki masa peralihan musim, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi.
Meski sejumlah wilayah di Bekasi mulai memasuki musim kemarau sejak April 2026, kondisi cuaca dinilai masih belum stabil. Hujan masih terjadi di beberapa titik, sehingga risiko bencana seperti banjir, cuaca ekstrem, hingga tanah longsor belum sepenuhnya hilang.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bekasi Dodi Supriadi mengatakan status siaga darurat bencana masih berlaku hingga 30 April 2026. “Potensi hujan dan cuaca ekstrem masih terjadi pada masa peralihan musim ini,” kata Dodi, Rabu (15/4/2026).
Ia menjelaskan, status siaga darurat tersebut mencakup berbagai potensi bencana, seperti banjir, banjir bandang, cuaca ekstrem, gelombang ekstrem, abrasi, dan tanah longsor.
Sementara itu, berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Juli hingga September 2026. BPBD pun mengimbau masyarakat mulai melakukan langkah antisipasi menghadapi musim kemarau.
Warga diminta menghemat penggunaan air bersih serta segera memperbaiki kebocoran untuk menjaga ketersediaan air.
Selain itu, masyarakat juga diingatkan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran dengan tidak membakar lahan maupun sampah, serta tidak membuang puntung rokok sembarangan.
Di sektor pertanian, petani diminta menyesuaikan pola tanam dengan menggunakan varietas yang tahan kekeringan, serta mengatur jadwal tanam dan pengelolaan air.
Upaya menjaga lingkungan juga dinilai penting, antara lain dengan mempertahankan pohon lindung di sekitar permukiman dan berpartisipasi dalam program pelestarian lingkungan.
Dari sisi kesehatan, masyarakat diminta menjaga kebersihan lingkungan guna mengantisipasi penyakit akibat debu, serta memastikan ketersediaan air bersih tetap terjaga. Lebih lanjut, masyarakat juga diimbau untuk terus memantau informasi cuaca resmi dari BMKG.
Di sisi lain, BMKG mencatat sebagian wilayah Bekasi, khususnya bagian utara, telah lebih dulu memasuki musim kemarau sejak Maret 2026.
Prakirawan BMKG Jawa Barat Vivi Indhira Purnaningtyas menyebut durasi kemarau tahun ini diperkirakan lebih panjang dibandingkan rata-rata. Bahkan, di beberapa wilayah Bekasi, musim kemarau berpotensi berlangsung hingga 28-30 dasarian atau sekitar 300 hari.
Kondisi ini turut dipengaruhi oleh fenomena El Nino yang diperkirakan mulai aktif pada akhir April hingga pertengahan tahun dengan intensitas lemah hingga moderat.
Secara umum, sebagian besar wilayah Jawa Barat diprediksi mengalami kemarau lebih cepat dan cenderung lebih kering dibandingkan kondisi normal.
BMKG mengingatkan pemerintah daerah dan masyarakat untuk mengantisipasi potensi kekeringan, penurunan ketersediaan air, gangguan irigasi pertanian, serta meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan. (dul)
