Dino Patti Djalal Soroti Frekuensi Lawatan Prabowo ke Luar Negeri, Usul Diplomasi Lebih Efisien

Dino Patti Djalal menyoroti tingginya frekuensi kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto. Ia mengusulkan diplomasi yang lebih efisien, transparan, dan hemat anggaran tanpa mengurangi kepentingan nasional.

Senin, 1 Juni 2026 - 6:01 WIB
Dino Patti Djalal Soroti Frekuensi Lawatan Prabowo ke Luar Negeri, Usul Diplomasi Lebih Efisien
Presiden Prabowo Subianto didampingi Wapres Gibran Rakabuming Raka terlihat jalan bersama. Foto: Biro Pers Setneg for Hallonews.

HALLONEWS.ID – Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal, menyoroti tingginya intensitas kunjungan luar negeri yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto sejak awal masa pemerintahannya.

Menurut Dino, diplomasi internasional merupakan instrumen penting untuk memperkuat posisi Indonesia di panggung global serta memperluas kerja sama strategis dengan berbagai negara.

Namun, ia menilai frekuensi perjalanan luar negeri yang terlalu padat juga perlu dievaluasi dari sisi efektivitas dan efisiensi.

“Setiap kunjungan kenegaraan melibatkan biaya yang tidak sedikit, mulai dari operasional pesawat, pengamanan, akomodasi delegasi, hingga berbagai kebutuhan logistik lainnya,” ujar Dino dalam keterangannya yang dikutip pada Minggu (31/5/2026).

Karena itu, mantan Wakil Menteri Luar Negeri pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tersebut mendorong pemerintah untuk mempertimbangkan pendekatan diplomasi yang lebih hemat tanpa mengurangi substansi hubungan antarnegara.

Salah satu gagasan yang ia tawarkan adalah memperluas pemanfaatan teknologi komunikasi, seperti panggilan video atau percakapan telepon langsung dengan para pemimpin dunia untuk membahas isu-isu tertentu yang tidak selalu memerlukan pertemuan tatap muka.

Menurut Dino, perkembangan teknologi saat ini memungkinkan komunikasi strategis antarnegara dilakukan secara cepat, efektif, dan tetap produktif.

Selain itu, ia mengusulkan agar setiap lawatan luar negeri dimanfaatkan secara lebih optimal dengan memperbanyak agenda pertemuan bilateral maupun kerja sama strategis dalam satu kunjungan.

“Dengan begitu, biaya perjalanan yang dikeluarkan negara dapat menghasilkan manfaat diplomatik yang lebih besar dan menjangkau lebih banyak kepentingan nasional,” katanya.

Dino juga menekankan pentingnya transparansi dalam setiap agenda perjalanan luar negeri kepala negara.

Menurutnya, masyarakat perlu memperoleh informasi yang jelas mengenai tujuan, manfaat, serta capaian konkret dari setiap kunjungan yang dilakukan.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan diplomasi tidak semata-mata diukur dari banyaknya perjalanan internasional yang dilakukan seorang pemimpin, melainkan dari hasil nyata yang mampu dirasakan masyarakat.

“Diplomasi yang kuat bukan diukur dari seberapa sering melakukan perjalanan ke luar negeri, tetapi dari kemampuan menghasilkan manfaat nyata bagi kepentingan nasional dan kesejahteraan rakyat Indonesia,” pungkasnya. (fer)