Jelang Iduladha, Pedagang Sapi di Bekasi Keluhkan Pembeli Hewan Kurban Menurun
Pedagang hewan kurban di Bekasi mengeluhkan kenaikan harga sapi jelang Iduladha 2026. Kondisi ekonomi dan dampak PMK disebut membuat penjualan melambat.

HALLONEWS.ID – Menjelang Iduladha 1447 Hijriah, pedagang hewan kurban di Bekasi mulai merasakan lesunya penjualan sapi. Kenaikan harga ternak dampak wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) serta melemahnya daya beli membuat pedagang memilih mengurangi stok.
Di kandang Ghita Farmer, Cikarang Timur, misalnya, jumlah sapi yang disiapkan tahun ini turun drastis dibanding tahun lalu. Jika sebelumnya peternakan itu mampu menyediakan hingga 400 ekor sapi, kini stok dipangkas menjadi sekitar 150 ekor saja.
Pemilik Ghita Farmer Budiono mengatakan kondisi ekonomi masyarakat menjadi salah satu faktor utama turunnya penjualan hewan kurban tahun ini.
“Banyak masyarakat sekarang lebih berhitung. Biasanya ada kelompok warga atau musala yang patungan beli sapi, sekarang sebagian memilih menahan dulu karena kondisi ekonomi,” kata Budiono saat ditemui di kandangnya, Kamis (7/5/2026).
Menurut dia, kenaikan harga sapi terjadi hampir di seluruh jenis ternak, mulai dari sapi Bali hingga sapi lokal seperti limosin dan simental. Penyebab utamanya ialah berkurangnya populasi sapi pasca merebaknya wabah PMK beberapa waktu lalu.

Foto: Hallonews/Abdullah M
“Harga sapi Bali tahun lalu masih sekitar Rp48 ribu per kilogram. Sekarang di Bali sudah naik jadi Rp55 ribu sampai Rp58 ribu per kilogram,” ungkapnya.
Kenaikan harga itu turut berdampak pada harga jual di tingkat peternak. Sapi limosin berbobot sekitar 500 kilogram yang sebelumnya dijual Rp31 juta hingga Rp33 juta kini naik menjadi Rp33 juta sampai Rp35 juta per ekor.
Sementara sapi Bali berbobot 400 kilogram yang tahun lalu dibanderol sekitar Rp24 juta kini menyentuh Rp26 juta. Meski harga melonjak, Budiono mengatakan permintaan sapi kurban masih tetap ada, terutama dari pelanggan tetap yang sudah memesan sejak jauh hari.
Untuk menghindari risiko kerugian, sebagian besar sapi yang tersedia tahun ini disiapkan berdasarkan sistem pemesanan, bukan stok bebas seperti tahun-tahun sebelumnya.
“Kami sekarang lebih banyak berdasarkan pesanan pelanggan. Sampai saat ini sudah lebih dari 100 ekor terjual,” paparnya.
Budiono memperkirakan penjualan tahun ini turun sekitar 1 hingga 5 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Ia juga melihat jumlah pedagang sapi musiman di pinggir jalan mulai berkurang akibat tingginya harga sapi dan biaya operasional.
“Kelihatannya memang lebih sepi dibanding tahun lalu. Pedagang musiman juga tidak sebanyak biasanya,” ujarnya.
Meski demikian, ia menilai penjualan masih berpotensi bertambah karena Iduladha masih sekitar tiga pekan lagi. Di tengah kondisi pasar yang melambat, pihak peternakan memastikan seluruh sapi yang dijual dalam kondisi sehat dan telah menjalani vaksinasi.
Untuk sapi asal Bali, vaksin PMK dan Lumpy Skin Disease (LSD) menjadi syarat wajib sebelum dikirim ke luar daerah. “Kami juga vaksin mandiri untuk sapi limosin dan simental supaya kesehatan ternak tetap terjaga,” tandasnya. (dul)
