Kirab Mahkota Binokasih 2026 Hadir di Bogor, Hidupkan Kembali Nilai Luhur Budaya Sunda
Kirab Mahkota Binokasih 2026 tiba di Bogor sebagai bagian Milangkala Tatar Sunda. Pawai budaya ini membawa pesan sejarah, filosofi Sunda, dan pelestarian nilai luhur masyarakat Jawa Barat

HALLONEWS.ID – Bogor kembali menjadi pusat perhatian dalam rangkaian Kirab Mahkota Binokasih Sanghyang Pake 2026 yang digelar pada Jumat (8/5/2026) malam.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari peringatan Milangkala Tatar Sunda yang berlangsung di sejumlah daerah di Jawa Barat sejak 2 hingga 18 Mei 2026.
Kirab budaya ini tidak hanya menghadirkan arak-arakan tradisional, tetapi juga menjadi momentum untuk mengingat kembali sejarah panjang peradaban Sunda.
Antusiasme masyarakat terlihat tinggi karena acara tersebut menghadirkan nuansa budaya dan nilai historis yang masih melekat kuat dengan identitas masyarakat Sunda.
Kota Bogor dipilih sebagai salah satu titik penting kirab karena memiliki hubungan erat dengan sejarah Pakuan Pajajaran.
Wilayah ini dahulu dikenal sebagai pusat pemerintahan kerajaan pada masa Sri Baduga Maharaja.
Kehadiran Mahkota Binokasih di Bogor dianggap sebagai simbol pengingat kejayaan Kerajaan Sunda sekaligus upaya memperkenalkan kembali warisan budaya kepada generasi muda.
Mahkota Binokasih merupakan pusaka peninggalan Kerajaan Sunda yang diperkirakan berasal dari abad ke-14.
Mahkota tersebut terbuat dari emas murni dengan hiasan batu giok dan dikenal sebagai lambang legitimasi kekuasaan raja Sunda.
Selain menjadi simbol kerajaan, mahkota ini juga menyimpan filosofi mendalam. Nama “Binokasih” memiliki makna kasih sayang, sedangkan “Sanghyang Pake” diartikan sebagai sesuatu yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Filosofi tersebut mengajarkan bahwa kasih sayang harus menjadi dasar dalam kehidupan bermasyarakat.
Nilai itu kemudian diwujudkan melalui sikap gotong royong, saling menghormati, musyawarah, serta kebijaksanaan dalam mengambil keputusan.
Mengandung Filosofi Sunda Tritangtu
Bentuk Mahkota Binokasih juga memiliki makna simbolis.
Tiga susunan pada mahkota merepresentasikan konsep Sunda Tritangtu yang dikenal melalui prinsip silih asah, silih asih, dan silih asuh.
Konsep tersebut mengajarkan masyarakat untuk saling berbagi ilmu, saling menyayangi, dan saling membimbing satu sama lain.
Sementara ornamen bunga wijaya kusuma dan burung julang pada mahkota melambangkan kesetiaan, ketulusan, dan kekuatan niat dalam menjalani kehidupan.
“Kirab Mahkota Binokasih tidak hanya dipandang sebagai seremoni budaya semata. Kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi sejarah sekaligus upaya pelestarian budaya Sunda di tengah perkembangan zaman modern,” kata Gubernur Jawa Barat, Dedy Mulyadi.
Melalui kirab budaya tersebut, pemerintah daerah bersama tokoh adat berharap nilai-nilai luhur Tatar Sunda tetap hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang. (opy)
