Macan Tutul Terluka di Bogor Dirawat Hingga Pulih, Kini Dilepas ke Habitat Alami

Seekor macan tutul yang terluka akibat jerat di kawasan Gunung Gede Pangrango berhasil dirawat hingga sembuh dan dilepas ke alam.

Senin, 6 April 2026 - 12:00 WIB
Macan Tutul Terluka di Bogor Dirawat Hingga Pulih, Kini Dilepas ke Habitat Alami
Petugas mengangkut barang dagangan milik PKL yang nekat berjualan di area terlarang usai pasar Bogor ditertibkan. Foto: Hallonews.id

HALLONEWS.ID — Seekor Macan tutul jawa yang ditemukan dalam kondisi terluka di sekitar permukiman warga, Kabupaten Bogor, berhasil diselamatkan dan kini telah kembali ke habitat alaminya setelah menjalani perawatan intensif.

Satwa dilindungi tersebut sebelumnya dilaporkan warga berada di area dekat Kampung Gunung Mas, Desa Tugu Selatan. Tim gabungan dari Taman Nasional Gunung Gede Pangrango bersama Taman Safari Indonesia, aparat kepolisian, TNI, serta masyarakat setempat segera melakukan evakuasi untuk memastikan keselamatan hewan dan warga.

Saat ditemukan, macan tutul mengalami luka pada bagian kaki yang diduga akibat jerat. Tim medis kemudian melakukan penanganan secara hati-hati guna menghindari stres pada satwa liar tersebut.

Perawatan dilakukan secara intensif, meliputi pembersihan luka, pemberian obat, serta pemantauan kondisi fisik hingga dinyatakan pulih.

Setelah melalui masa rehabilitasi dan dipastikan mampu bertahan hidup di alam liar, macan tutul tersebut akhirnya dilepas kembali ke kawasan hutan konservasi.

Proses pelepasliaran dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi kesehatan satwa dan keamanan lingkungan. Lokasi pelepasan dipilih di area yang jauh dari aktivitas manusia, namun masih berada dalam wilayah jelajah alaminya di kawasan Gunung Gede Pangrango.

Langkah ini menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem serta memastikan kelangsungan hidup spesies yang populasinya semakin terbatas.

Ligar Sonagar Risjoni, Ketua Regional Gunung Gede Pangrango Halimun Salak, Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia, Jawa Barat (Gedepahala FK3I Jabar) mengatakan Macan Tutul itu secara alami, dahulu kampung itu adalah rumahnya mereka. Jadi ada waktu tertentu mereka keluar.

Seiring waktu terjadi perubahan-perubahan rumah mereka menjadi perkampungan, pertama itu. Yang kedua, bisa ada yang menarik untuk Macan Tutul mangsa mengejar mangsa.

“Misalkan Macan Tutul ngejar babi, ngejar mencek, atau ayam lalu akhirnya keluar kawasan,” kata Ligar Sinaga dikutip wartawan media ini Senin (6/4/2026).

Ia mengatakan perlu ada investigasi apakah ini memang kena jerat sampah itu atau memang kena jerat pemburu mencek atau pemburu babi atau pemburu burung.

Pihaknya merespons positif langkah cepat petugas Taman Nasional Gede Pangrango, petugas Taman Safari Indonesia, aparat Kepolisian dan TNI bersama masyarakat.

“Tentunya, setelah itu didukung untuk kesehatan, untuk medis. Dan juga nanti akan dilepas kembali ke habitatnya,” imbuhnya.

Peristiwa ini kembali menegaskan pentingnya edukasi kepada masyarakat terkait perlindungan satwa liar. Aktivis konservasi menilai, meningkatnya pertemuan antara manusia dan satwa tidak lepas dari perubahan fungsi lahan serta aktivitas manusia di sekitar kawasan hutan.

Masyarakat diimbau untuk tidak memasang jerat sembarangan dan menghindari tindakan yang dapat membahayakan satwa dilindungi.

Selain itu, warga juga didorong untuk segera melaporkan kepada pihak berwenang apabila menemukan satwa liar yang masuk ke area permukiman.

Populasi Macan tutul jawa di wilayah tersebut tergolong terbatas, sehingga diperlukan peran aktif semua pihak untuk menjaga kelestariannya. Kehadiran satwa ini sejatinya merupakan bagian penting dari ekosistem hutan yang harus dilindungi bersama.

Keberhasilan penyelamatan dan pelepasliaran ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran publik bahwa manusia dan satwa liar dapat hidup berdampingan, selama ada komitmen untuk menjaga alam dan menghormati habitat mereka. (opy)